Perintah taqwa, Mengiringi perbuatan buruk dengan kebaikan, Akhlak mulia

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ

: اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ “

[رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Zar Jundub bin Junadah dan Abu Abdurrahman Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam beliau bersabda : Bertakwalah kepada Allah dimana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan maka kebaikan akan menghapus keburukan itu, dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.“ (Riwayat Turmuzi, dia berkata haditsnya hasan, pada sebagian cetakan dikatakan hasan shahih). sumber

Penjelasan hadits:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.” Yakni, bertakwa dalam kondisi apapun, di mana saja dan kapan saja. Dan perintah takwa dalam setiap kondisi itu diajarkan melalui mengiringi setiap keburukan dengan kebaikan karena kebaikan itu akan menghapus dosa-dosa akibat keburukan, serta untuk berbuat kepada setiap manusia dengan akhlak yang baik.

Tentang keutamaan akhlak ini, ada banyak riwayat yang mejelaskan keutumaanya melebihi keutamaan ibadah. Pasti ingat, waktu Rasulullah terburu-buru menyelesaikan sholat fardunya karena teringat ada harta di dalam rumahnya yang harus segera dibagikan kepada orang miskin. Atau kisah para sahabat-sahabat beliau.

Seperti apa yang disebut akhlak itu? Steven Covey pernah bilang soal bagaimana melahirkan kebiasaan yang efektif, “Ada ruang antara stimulus yang lahir dari sebuah peristiwa yang kita temui, dengan aksi yang akan kita lahirkan sebaagai respon terhadap stimulus itu. Ruang tersebut menyediakan banyak pilihan, semakin pandai memilih maka semakin efektif pekerjaan kita.” Ternyata ungkapan ini hampir sama dengan definisi akhlak dari Imam Ghazali ratusan tahun yang lalu, “Akhlak adalah respon terhadap suatu peristiwa.”

Akhlak yang baik berarti respon baik terhadap setiap peristiwa. Misalnya seorang ibu marah-marah waktu anaknya kurang hati-hati meletakkan gelas, sehingga jatuh dan pecah. “Aduuh, kamu gimana sih nak.. hati-hati dong naruh gelas”. Menggerutu, kesal, marah, ini responnya, maka ya berartinya begitulah akhlaknya. Atau respon yang berbeda, “Sini sini sayang, ambil sapu, bersihin pelan-pelan ya, awas kena pecahan gelas. Lain kali hati-hati ya sayang..”. Mana yang lebih baik? Ya begitulah akhlak, respon pertama.

Mengenai respon pertama ini, ada kisah dari wanita yang ditinggal mati oleh suaminya. Rasulullah saw. kemudian datang untuk takziyah (melayat). Beliau bilang, “Sabar ya, sabar…” Wanita tersebut malah bilang, “Enak saja kamu bilang sabar sabar, yang kena musibah itu kan saya.” Rasulullah kemudian pulang. Setelah pulang seseorang memberi tahu wanita tersebut bahwa tadi adalah Rasulullah. Seketika kaget si wanita itu, dan langsung menemui Rasulullah dan meminta maaf, “Saya sabar, saya sabar ya Rasul”. Lantas beliau mengatakan, “Sesungguhnya sabar ya waktu tadi.” Jadi, respon itu yang dimaksud dengan akhlak.

Ada teman yang sakit, trus kita bilang, “Ya sudah mau diapain, kita jenguk aja nanti.” Respon kurang baik, akhlaknya kurang. Meskipun tau secara syariat harus menjenguk, tapi tidak menunjukkan akhlak yang baik dengan berempati. Maka dengan demikian, akhlaqul karimah adalah merespon setiap peristiwa dengan respon yang positif.

Beberapa akhlak yang termasuk utama adalah: berani, wafa (komitmen), sabar, empati. Kenapa berani termasuk yang paling utama? Biasanya orang yang berakhlak baik diidentikkan dengan lembut, pemaaf, sabar, mengalah. Iya benar, tapi berani tetap harus punya tempat. Contoh sikap berani yang mengagumkan adalah sikap Hamas terhadap Fatah.

Pada saat menjelang pemilu Palestina beberapa waktu lalu, Hamas diperkirakan kalah. Beberapa analis dari Mesir, dari Israel juga memperkirakan Hamas pasti kalah. Bahkan Hamas sendiri pun memperkirakan akan kalah. Namun, ternyata semua dugaan meleset, Allah berkehendak lain. Setelah penghitungan selesai, ternyata Hamas menang. Menangnya sih memang tidak mutlak. Tapi jelas ini membuat Amerika dan Israel kebakaran jenggot. Maka dibuatlah bermacam-macam skenario untuk menggoyang pemerintahan Hamas supaya terlihat Hamas tidak kredibel. Maka dibuatlah embargo-embargo. Embargo makanan, embargo keuangan, rekening-rekening yang mengalirkan dana ke Palestina ditahan juga.

Dengan upaya ini ternyata pemerintahan Hamas belum jatuh juga. Akhirnya apa yang diperbuat Israel? Sungguh menyakitkan!! Israel merekrut Fatah untuk dipersenjatai dan dilatih di luar Palestine, kemudian menyerang orang-orang Hamas. Dari pintu ke pintu Fatah mencari orang-orang Hamas, begitu ditemui, ditarik paksa ada yang ditangkap, ada pula yang ditembak secara sporadis di depan istri dan anak-anaknya.

Dengan tindakan Fatah yang tak manusiawi itu, apa kata Hamas, “Kami sudah berkomitmen untuk tidak menyerang sesama Palestine.” Maka, dengan kondisi yang semakin buruk antara Hamas dan Fatah, akhirnya digelar jajak pendapat untuk menentukan kepada siapa pemerintahan akan diserahkan. Apa hasilnya? Sebagian besar rakyat Palestina menyatakan, “lebih baik lapar dari pada harus tunduk kepada Israel!”. Berdasar hasil jajak pendapat itu, maka Hamas kemudian mengatur strategi untuk mengatasi serangan Fatah.

Kurang dari 24 jam, Hamas berhasil membersihkan Fatah! Hamas membasmi Fatah yang bersenjata, yang melawan. Apa yang dilakukan kemudian terhadap orang-orang Fatah yang telah menyakiti Hamas itu? Hamas melucuti mereka dan menyatakan bahwa Hamas memaafkan mereka, dan mengirim mereka kembali ke Mesir. Luar biasa, subhanallah..

Hamas mencontohkan akhlaq berani. Berani menahan diri (yang sering kali diindentikkan dengan lemah) tapi sekaligus berani (dan mampu) untuk menumpas kedzaliman. Inilah gambaran berani sebagai akhlaqul karimah.

Lawan dari berani adalah pengecut. Pengecut termasuk akhlak tercela. Contoh ini ditunjukkan oleh tentara-tentara Israel. Saat serangan roket Hamas semakin mengancam pemukiman Yahudi, maka Israel mengirimkan 15 tank Mirkava ke Gaza untuk melancarkan operasi militer. 15 tank dengan teknologi tercanggih saat ini. Begitu tank-tank ini memasuki pintu Gaza, maka muncullah 2 orang anak kecil dari dalam tanah dan melempari mereka dengan batu. Apa yang terjadi?? Komandan tank itu memerintahkan anak buahnya untuk berhenti, lantas membatalkan operasi dan kembali ke pangkalan. Kenapa? Ada apa? Ya begitulah sikap pengecut orang-orang Israel.

Pelajaran lainnya dari hadits ini adalah tentang kemurahan Allah bahwa kebaikan-kebaikan akan menghapus dosa-dosa keburukan yang pernah dikerjakan. Untuk itu, Allah juga mengajarkan contoh kebaikan yang bisa dijadikan sarana menghapus dosa keburukan, misalnya dengan meminta ampun atau bertaubat, dan disertai dengan perbuatan baik lainnya. Muncul pertanyaan, biasanya pahala kebaikan kan dilipatgandakan, maka apakah ‘bonus’ pahala itu juga menghapus dosa, atau hanya satu kebaikan saja yang menghapus satu dosa?

Dalam hadits shahih riwayat Abu Dawud, Rasulullah saw bersabda, “Kalian bertakbir di akhir setiap shalat sebanyak sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, dan bertasbih sepuluh kali, maka itu menjadi 150 pada lisan dan (bernilai) 1500 pada timbangan.” Kemudian beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang melakukan 1500 keburukan dalam sehari?” Nah, ini menunjukkan bahwa kelipatannya juga mengahapuskan keburukan-keburukan.

Hadits ini mengajarkan satu prinsip dakwah kepada para dai bahwa tugas mereka adalah menyampaikan bukan untuk menghakimi orang-orang yang berbuat maksiat. Karena maksiat yang dilakukan itu bisa saja ditutupi oleh kebaikan yang mereka lakukan suatu saat nanti. Tidak boleh mencela apalagi mengklaim buruk perempuan-perempuan yang masih enggan berhijab. Selama mereka masih mau diajak sholat, puasa, sedekah, dan kebaikan yang lain, dakwahilah dengan kebaikan itu. Insya Allah dosa akibat menolak berhijab bisa dihapus dengan kebaikan-kebaikan yang lain.

Lebih Sehat tanpa Pacaran

“Masih kecil jangan pacaran” begitu para orangtua di zaman dulu menasehati anak-anak mereka. Tentu saja, bukan dimaksudkan jika sudah besar dibolehkan. Mungkin maksudnya, jika sudah dewasa dan sudah siap bersegera saja menikah.

Nah, rupanya nasehat ortu zaman dulu, kini dibuktikanoleh para ilmuan modern. Dalam temuan terbaru menunjukkan, semakin dini seseorang menjalin cinta maka semakin besar risiko beban kejiwaan. Termasuk berisiko sakit hati, depresi, bahkan sakit-sakitan.

Penelitian yang ditulis dalam Journal of Pain, peneliti dari Universite de Montreal, University Hospital Center dan McGill University menemukan anak remaja yang mulai pacaran sejak dini lebih banyak mengalami sakit kepala, perut, dan pinggang. Mereka juga dilaporkan lebih banyak depresi dibanding rekan seusianya yang belum pernah pacaran.

Dr. Isabelle Tremblay, seorang peneliti dari Universite de Montreal serta Dr. Michael Sullivan telah melakukan studi untuk mengetahui pengaruh menjalin hubungan sejak dini terhadap kesehatan seseorang.

Sebanyak 382 pelajar remaja berumur rata-rata 12 hingga 17 tahun di Canada direkrut sebagai partisipan penelitian. Mereka diminta untuk mengisi kuisioner tentang frekuensi dan intensitas mengalami gangguan emosi serta fisik dan juga usia awal mengenal pacaran.

Hasilnya, seseorang yang mengenal cinta lebih dini cenderung menjadi pribadi yang rapuh, sakit-sakitan, merasa tidak aman, dan depresi. “Gejala itu berkembang dari sejak kanak-kanak, lalu remaja, dan akhirnya ketika dewasa” ujar Sullivan seperti dilansir www.sciencedaily.com, kamis, 26 November 2009 lalu.

Peneliti belum sepenuhnya mengerti mengapa hal itu terjadi. Namun, kesimpulan yang dinyatakan peneliti adalah: seseorang yang menjalin hubungan pacaran dini, contohnya remaja, akan memiliki alarm rasa sakit yang lebih tinggi. Terutama jika remaja itu menjalin hubungan buruk dengan pasangannya. Sementara jalinan hubungan baik jarang tercipta pada usia dini.

Sementara itu, di sisi lain, mereka yang belum menjalin cinta pada usia dini cenderung lebih ekspresif dan lebih banyak bersosialisasi dengan teman-teman lainnya tanpa harus sedih atau mengalami depresi.

Nah, agar anak anda tidak mudah depresi, hindarkan mereka dari mengenal pacaran.

Ada Sungai dalam Laut!

Ditulis oleh Sajadah Sukses di/pada Minggu, Maret 7, 2010

“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan) ; yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)

Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton rancangan TV `Discovery’ pasti kenal Mr.Jacques Yves Costeau , ia seorang ahli oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke perbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat filem dokumentari tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton di seluruh dunia.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya kerana tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang masin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu memeningkan Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari penyebab terpisahnya air tawar dari air masin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berfikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam. Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawapan yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor Muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan ( surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez . Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laa yabghiyaan.. .”Artinya: “Dia biarkan dua lautan bertemu, di antara keduanya ada batas yang tidak boleh ditembus.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.

Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diertikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air masin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” ertinya “Keluar dari keduanya mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak
ditemukan mutiara.

Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera. Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam
akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahawa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannyamutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.

Maha Suci Allah yang Maha Menciptakan
Sungai dalam Laut

Jika anda seorang penyelam, maka anda harus mengunjungi Cenote Angelita, Mexico. Disana ada sebuah gua. Jika anda menyelam sampai kedalaman 30 meter, airnya air segar (tawar), namun jika anda menyelam sampai kedalaman lebih dari 60 meter, airnya menjadi air asin, lalu anda dapat melihat sebuah “sungai” di dasarnya, lengkap dengan pohon dan daun daunan.

Setengah pengkaji mengatakan, itu bukanlah sungai biasa, itu adalah lapisan hidrogen sulfida, nampak seperti sungai… luar biasa bukan? Lihatlah betapa hebatnya ciptaan Allah SWT.

Tips Mantab Sebelum Puasa Ramadhan!

Alhamdulillah, kita dipertemukan Allah dengan bulan mulia ini. Sehingga kesempatan untuk kita memperbaiki dan melatih diri agar benar-benar menjadi hambaNya terbuka semakin luas. Seandainya setiap manusia betul-betul memahami betapa berharganya Ramadhan, tentulah semua orang akan berlomba-lomba di dalam kebaikannya, sehingga output ramadhan itu sendiri ialah lahirnya manusia-manusia yang shalih dan masyarakat yang madani.

Lalu kenapa banyak diantara umat islam yang gagal dalam menjalani ramadhannya? Hal yang paling mungkin ialah persiapan yang kurang ketika akan memasuki ramadhan, baik secara teknis maupun non teknisnya. Malahan, ada yang menyambut ramadhan dengan perkara bid’ah qabihah semisal mandi-mandi bersama di sungai. Jika, persiapan sebelum ramadhan betul-betul baik, insya Allah target yang diinginkan tercapai.

Allah berfirman, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu bertaqwa..” Jelas sekali bahwa target puasa ramadhan ialah agar jadi insan yang taqwa! Insan yang taqwa ialah insan yang peka dengan kebersamaan Allah dalam dirinya, sehingga ia mudah melakukan keta’atan kepada Allah dan mengikuti sunnah Nabi secara kamil. Ini adalah target yang dikehendaki oleh Allah. Sebagaimana pada ayat lain Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke delam Islam secara kaffah (sempurna)..”

P e r s i a p a n

Dalam sebuah hadits yang terkenal, Nabi saw bersabda yang artinya: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu..”

Jelas sekali, dari ayat dan hadits dia atas, modal yang ke (1) sebelum memasuki bulan ramadhan ialah iman. Oleh karena itu, yang diseru dalam ayat ialah orang mukmin, bukan manusia/annas saja, tapi sangat khusus kepada orang yang beriman. Maka, persiapan pertama sebelum memasuki ‘sekolah’ ramadhan ialah keyakinan yang sempurna kepada Allah. Hal ini bisa dilatih dengan program khuruj, yakni beriktikaf di masjid, mengahdiri majelis da’wah dan ta’lim, mentafakkuri Al Quran, bersuhbah dengan ulama dan orang shalih, dsb. Ini adalah usaha agar iman menjadi baik, sehingga ketika memasuki ramadhan, insya Allah kita memiliki semangat juang yang baik pula.

Kemudian, persiapan ke (2) ialah ihtisab, yakni mengharapkan pahala dari Allah. Maka, persiapan setelah iman ialah kita perbanyak menghadiri majelis yang menjelaskan keutamaan (fadhilah) bulan ramadhan dan amalan-amalan ibadah di dalamnya. Mari perbanyak membaca referensi tentang Fadhilah ramadhan. Jangan terlalu terjebakk dengan istilah hadits dhaif dalam konteks fadhilah, karena menurut Imam An Nawawi rahimahullah dalam Hadits Arba’in, dikatakan bahwa hadits dha’if bisa digunakan dalam hal fadhilah beramal, jika hadits tersebut tidak terlalu lemah (dha’if jiddan), karena hal ini pun dapat menyemangati diri kita agar semangat beramal shalih pada bulan ramadhan.

Sebagaimana fadhilah puasa pada hadits di atas yakni akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu, maka persiapan ke (3) ialah bertaubat kepada Allah* dan berbanyak meminta maaf kepada sesama manusia. Hal ini disebabkan dosa kepada manusia, tidak cukup dengan hanya bertaubat secara vertikal kepada Allah melainkan harus dengan meminta maaf kepada manusia. Ada sebuah nasehat bijak dari seorang ustadz yang saya dengar, yakni: perbanyaklah silaturrahim dan meminta maaf kepada mereka yang mungkin selama ini kita dzolimi, namun sebelum itu maafkanlah terlebih dahulu semua kesalahan orang lain terhadap kita. Subhanallah!

Kemudian sebagai tambahan, kajilah kembali fiqh puasa dasar. Sehingga kita tidak menjadi ragu-ragu dalam menjalakan puasa. Misalnya apa-apa saja yang membatalkan puasa, apa saja yang menjadi makruh ketika puasa, apa-apa yang menghapus pahala puasa dsb. Kemudian jika kita awam, maka tetapkan pada pendapat satu mahdzab saja yakni mahdzab Imam Syafi’i, hal ini agar kita tidak terjebak pada sikap talfiq yakni mencampur adukkan mahdzab dan mencari-cari alasan untuk mempermudah urusan agama sehingga mengikuti kehendak hawa nafsu sendiri. Wallahua’lam

Keistimewaan Bahasa Arab sebagai Bahasa Kitab Al Quran

al-quran

Bahasa Arab memang sebuah bahasa yang istimewa. Sehingga Allah SWT berkenan berbicara kepada umat manusia dengan bahasa Arab lewat Al-Quran Al-Kariem. Padahal Al-Quran itu bukan hanya ditujukan kepada bangsa Arab saja, melainkan untuk seluruh umat manusia sepanjang zaman.

Allah SWT bukan tidak tahu bahwa manusia itu memiliki ribuan jenis bahasa yang saling berbeda. Namun Dia telah menetapkan bahwa hanya ada satu bahasa yang digunakannya untuk memberik petunjuk buat milyaran umat manusia, yaitu bahasa Arab.

Sebelum diutusnya nabi Muhammad SAW, memang Allah SWT berbicara kepada umat manusia dengan menggunakan bahwa masing-masing. Dan Allah SWT mengutus para nabi dari keturunan masing-masing bangsa dan bahasa itu. Sebagaimana firman-Nya: Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (QS. Ibrahim: 4)

Namun khusus untuk nabi yang terakhir, Allah SWT telah menetapkan kebijakan tersendiri. Pertama, nabi terakhir itu benar-benar nabi yang diutus untuk terakhir kalinya. Artinya, setelah itu tidak akan ada lagi nabi, meski hari kiamat masih jauh. Kedua, nabi itu hanya memiliki satu bahasa dan tentunya kitab suci yang diturunkan pun hanya satu bahasa saja. Dan bahasa yang dipilih adalah bahasa Arab.

Kemudian Allah SWT pun telah menetapkan bahwa cara manusia berkomunikasi dengan-Nya lewat ibadah shalat pun dengan menggunakan bahasa Arab. Shalat itu menjadi tidak sah ketika tidak menggunakan bahasa Arab, meski bukan berarti Allah SWT tidak mengerti bahasa Arab itu. Namun sengaja Allah SWT menetapkan bahwa shalat kepada-Nya hanya boleh menggunakan bahasa Arab saja.

Lantas ketika agama Islam ini disiarkan ke seluruh penjuru dunia, para sahabat, tabi’in dan generasi selanjutnya pun tetap konsekuen menggunakan bahasa Arab. Al-Quran Al-Karim pun tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Kalau pun suatu ketika diterjemahkan, maka terjemahannya itu tidak dianggap sebagai Al-Quran yang suci. Bahkan kitab-kitab yang ditulis para ulama di seluruh penjuru dunia tetap menggunakan bahasa Arab. Meski ulama itu bukan keturunan Arab dan tidak lahir di negeri Arab. Namun bahasa Arab telah dijadikan bahasa yang menyatukan dunia Islam, dari ujung barat Moroko hingga ujung timur Marouke. Hingga bahasa yang digunakan oleh umat Islam pun juga bahasa Arab.

Tentunya ada alasan kuat mengapa bahasa Arab yang dipilih Allah SWT untuk dijadikan bahasa komunikasi antara langit dan bumi. Para pakar bahasa Arab sering kali menyebutkan di antara keistimewaan itu antara lain:

Bahasa Arab adalah induk dari semua bahasa manusia

Pendapat ini sering mengemuka ketika kita mempelajari sejarah suatu bahasa. Analisa yang sering digunakan adalah bahwa sejak manusia pertama, Nabi Adam as, menjejakkan kaki di atas bumi, beliau sudah pandai berbicara. Dan karena sebelum beliau adalah penduduk surga, di mana ada keterangan bahwa bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab di dalam suatu riwayat, maka otomatis bahasa yang digunakan oleh Nabi Adam as itu adalah bahasa Arab. Dan tentunya anak-anak keturunan Nabi Adam as itu pun menggunakan bahasa Arab. Meski pun setelah itu jumlah mereka tambah banyak dan tersebar ke berbagai benua, menjadi jutaan bahasa yang saling berbeda.

Bahasa Arab adalah Bahasa Tertua dan Abadi

Bahasa Inggris sekarang ini boleh saja dikatakan bahwa paling populer di dunia, akan tetapi tidak ada bahasa yang bisa bertahan lama di muka bumi selain bahasa Arab. Sebab sejarah membuktikan bahwa sejak zaman Ibrahim Alaihissalam di muka bumi yang diperkirakan hidup pada abad 19 sebelum masehi, mereka tercatat sudah menggunakan bahasa Arab. Itu berarti bahasa Arab paling tidak sudah digunakan oleh umat manusia sejak 40 abad yang lalu, atau 40.000 tahun. Bahkan analisa yang lebih jauh lagi menunjukkan bahwa bahasa Arab telah berusia lebih tua lagi. Karena bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan Allah SWT untuk berfirman di dalam Al-Quran. Sementara Al-Quran itu sudah ada di sisi Allah SWT jauh sebelum awal mula diturunkan di masa Rasulullah SAW. Dan Allah SWT menjamin bahwa Al-Quran itu tidak akan lenyap hingga hari kiamat. Artinya, bahasa Arab adalah bahasa yang sudah jauh sebelum adanya peradaban manusia dan akan terus berlangsung hingga akhir dunia ini.

Bahasa Arab adalah Bahasa yang Paling Banyak Diserap

Bahkan serapan dari bahasa Arab nyaris terdapat di hampir semua bahasa yang ada saat ini. Nyaris bahasa-bahasa yang kita kenal sekarang ini, telah banyak menyerap kosa kata dan istilah dari bahasa Arab. Salah satunya adalah bahasa Ingrgris dan tentunya bahasa Indonesia. Bahkan bahasa ilmiyah di dunia sains pun tidak lepas dari pengaruh serapan kata dari bahasa Arab. Istilah alkohol, aljabar, algoritme dan lainnya adalah bagian dari serapan dari bahasa arab.

Bahasa Arab Memiliki Jumlah Perbendaharaan Kata yang Paling Banyak

Salah satu keistimewaan bahasa Arab lainnya adalah kekayaan dalam jumlah perbendaharaan kata. Mungkin karena usianya yang sudah tua namun masih digunakan hingga hari ini, sehingga penbendaharaan kata di dalam bahasa Arab menjadi sangat besar. Sebagai contoh, salah satu peneliti bahasa Arab mengemukakan bahwa orang Arab punya 80 sinonim untuk kata yang bermakna unta. Dan punya 200 sinonim untuk kata yang bermakna anjing.