بسم الله الرحمن الرحيم
Dan wajib bagi kamu berbakti kepada kedua orang tuamu karena berbakti kepada orang tua itu termasuk perkara yang paling wajib diantara beberapa perkara yang wajib. Dan takutlah engkau mendurhakai keduanya karena itu termasuk dosa besar diantara dosa-dosa besar lainnya. الله SWT telah berfirman :
وقض ربك ان لاتعبدوا الا اياه وبا الوالدين احسان
Dan الله telah memerintahkanmu agar tidak menyembah selain Dia, dan (memerintahkanmu untuk) berbuat baik kepada kedua orang tuamu.
Dan الله تعالى juga berfirman, :
أن اشكرلى ولوالديك..
Hendaklah bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.
Maka lihatlah bagaimana الله تعالى menghubungkan perintah untuk berbuat baik kepada keduanya dengan bertauhid kepada-Nya, dan bersyukur kepada keduanya dengan bersyukur kepada-Nya. Maka wajib bagimu untuk mendapatkan ridha kedua orang tuamu dan melaksanakan perintah mereka selama perintah itu bukan untuk bermaksiyat. Dan hendaklah engkau meninggalkan apa yang dilarang oleh keduanya selama larangan itu bukan untuk meninggalkan keta’atan yang wajib. Dan hendaklah engkau memilih mengutamakan kepentingan mereka berdua daripada kepentingan dirimu sendiri. Dan termasuk durhaka adalah apaibla engkau menghalangi (tidak memberi) apa yang sebenarnya mampu untuk diberikan kepada mereka berdua dari sesuatu yang baik untuk mereka, maka bagaimana pula dengan bermasam muka dan menghardik mereka.
Telah bersabda رسول الله SAW, “Bau surga dapat dirasakan dari jarak perjalanan 1000 tahun dan tidak akan dapat merasakannya orang yang durhaka kepada kedua orang tua, orang yang memutuskan tali silaturahmi, orang tua yang berzina, orang yang memanjangkan sarung/pakaiannya karena sombong. Sesungguhnya kesombongan itu milik الله Rabbil alamin.
Dan telah bersabda رسول الله SAW, dari الله SWT, “Barang siapa di waktu pagi hari dalam keadaan mendapat ridha dari kedua orang tuanya sedangkan ia gusar terhadap-Ku, maka Aku ridha kepadanya. Dan barang siapa pada pagi hari tidak ridho orang tuanya dan ia dalam keadaan ridha kepada-Ku, maka Aku tidak ridha kepadanya.
Dan seharusnya bagi orang tua dapat membantu anak mereka agar dapat dengan mudah mereka berbakti kepada orang tua dengan tidak terlalu banyak menuntut hak. Terlebih pada zaman sekarang ini yang sukar untuk dapat di temui kebaktian kepada orang tua. رسول الله Saw telah bersabda, “ الله akan mengasihi orang tua yang menolong anaknya untuk berbakti kepada mereka”.
Dan wajib bagi kamu untuk menyambung tali silaturahmi kepada kerabat dan tetangga dekat. الله تعالى berfirman :
واعبدواالله ولاتشركوابه شيئا وبالوالدين احسانا وبدى القربى واليتامى والمساكين والجارذى القربى والجار الجنب الاية......
Dan sembahlah الله dan janganlah kamu sekalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuatlah baiklah kepada kedua orang tua, dan kepada kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin...
Telah bersabda رسول الله SAW yang artinya bahwa sedekah kepada kerabat adalah sedekah penyambung tali silaturahmi.
وقال صل الله عليه وسلم, من كان يؤمن بالله واليوم الاخرفليصل رحمه
Telah bersabda رسول الله SAW, barang siapa yang beriman kepada الله dan hari akhir, maka hendaklah menyambung tali silaturahmi.
Dan di dalam hadits yang lain :
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم جاره
Barang siapa yang beriman kepada الله dan hari akhir hendaklah memulyakan tetangganya.
Bahkan dalam sebuah riwayat dinyatakan, tidak henti-hentinya malaikat Jibril AS memberikan wasiyat kepada رسول الله SAW berkenaan dengan tetangga hingga khawatir bahwa tetangga tersebut akan sampai mendapatkan hak waris. Dan tidaklah sempurna silaturahmi dan berbuat baik kepada tetangga kecuali hingga ia dapat ikut merasakan dan menahan penderitaan yang menimpa mereka, atau mampu menahan beban penderitaan disebabkan mereka. Demikian pula membalas kebaikan tetangga menurut kemampuan. Telah bersabda رسول الله SAW yang artinya, “Bukanlah termasuk orang yang menyambung tali silaturahmi, mereka yang membalas kebaikan yang sepadan, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi adalah mereka yang apabila diputus, lalu ia menyambungnya”.
Misteri Angka Tujuh dalam Al-Quran
Photobucket
Banyak orang yang tidak percaya bahawa Al-Quran adalah wahyu ALLAH. Tetapi ketika ALLAH menentang manusia agar membuat kitab seperti Al-Quran, tidak ada satu pun manusia yang mampu. Ya, Al-Quran adalah mukjizat yang luar biasa dipandang dari sudut ilmu mana pun. Sebagai kitab suci yang berlaku sepanjang masa, Al-Quran mengandung berbagai mukjizat. Mulai dari mukjizat linguistik, keghaiban, jagat raya, perubatan, matematika, dan mukjizat-mukjizat lain yang kesemuanya dapat diketahui sesuai dengan kemampuan dan waktu kapan manusia hidup.
Kemukjizatan Al-Quran yang mencakup semua bidang ilmu membuat para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu berlumba-lumba mengungkapkan keajaiban yang terkandung di dalamnya. Mereka berusaha membuktikan bahawa isi Al-Quran tidak lekang oleh waktu, sejalan dengan pemikiran manusia dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Tulisan ini disarikan dari buku Misteri Angka Tujuh dalam Mukjizat Matematika Al-Quran, karya ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil. Ia mengulas secara mendalam kemukjizatan Al-Quran dalam bidang numerik. Ia membuktikan bahawa semua surah, ayat, kata, dan huruf dalam Al-Quran disusun ALLAH secara teratur dengan sistem berbasis angka 7 sebagai dalil bahawa ia bersumber dari Rabb 7 lapis langit.
Angka Istimewa
Tidak dapat dipungkiri, angka paling istimewa dalam Al-Quran setelah angka 1 adalah angka 7. Angka ini memiliki keistimewaan dalam berbagai rutinitas ibadah, alam semesta, dan sejarah. Apa rahsia angka ini? Mengapa ia disebut berulang-ulang di berbagai tempat dalam Al-Quran?
Bagaimana alam raya yang luas dengan setiap bahagian, orbit dan bintang-bintangnya terikat dan terkait satu sama lain? Dengan hikmah-NYA, ALLAH menetapkan hukum-hukum matematik yang tepat untuk keterkaitan alam, di antaranya hukum gravitasi. Hukum ini membumi mengelilingi matahari dan bulan menelilingi bumi.
Sebagaimana kita lihat, banyak sekali indikasi angka 7 di alam semesta dan kehidupan di sekitar kita. Kita juga melihat tatanan yang sempurna dengan basis angka 7 dalam Al-Quran. Ini menunjukkan keesaan ALLAH dan Al-Quran adalah kitabullah.
Hikmah pemilihan angka 7 sebagai poros penelitian ini adalah banyaknya indikasi angka 7 di dalam Al-Quran dan hadiths Nabi, juga pengulangan angka ini dalam tatanan yang sangat teratur di Kitabullah yang dalil-dalilnya akan dikemukakan. Ketika tahu bahawa tatanan alam semesta berbasis angka 7 dan kita menemukan angka ini terulang-ulang secara sistematik di dalam kitab suci yang diturunkan 14 abad lalu, kita yakin bahawa Pencipta alam raya adalah Yang Menurunkan Al-Quran.
Sekarang mari kita lihat kehadiran angka 7 di alam semesta. Ketika mencipta alam, ALLAH menjadikan langit berjumlah tujuh lapis, demikian juga bumi. ALLAH berfirman, “ALLAH lah yang menciptakan tujuh langit dan demikian juga bumi. Perintah ALLAH berlaku padanya agar kamu mengetahui bahawa ALLAH Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan ilmu-NYA.” (QS Ath-Thalaq: 12).
Bahkan atom, sebagai unit fundamental struktur alam semesta, juga tersusun dari tujuh lapisan elektron. Tidak mungkin lebih. Jumlah hari dalam minggu tujuh, jumlah not musik tujuh, jumlah warna tujuh, dan para geologi menemukan bahawa bola bumi tersusun dari tujuh tingkatan.
Angka 7 juga menampakkan kehadiran yang nyata dalam sunnah Nabi. Beliau telah menyampaikan banyak sekali hadiths dan angka 7 memiliki “jatah” yang besar di dalamnya. Ini menunjukkan urgensi angka ini serta keragaman indikasi dan rahsianya.
Ketika menerangkan hal-hal yang merosak, Rasulullah membatasinya pada tujuh hal. Beliau bersabda, “Jauhilah tujuh hal yang merosak.”
Ketika menerangkan perihal kezhaliman dan mengambil tanah orang lain tanpa alasan, beliau menjadikan angka 7 sebagai simbol azhab pada hari kiamat, dan bersabda: “Orang yang menzhalimi orang lain walau hanya beberapa jengkal tanah, akan dikalungkan kepadanya azhab dari tujuh bumi.” (HR Bukhari Muslim).
Nabi menerangkan bahawa ALLAH memerintahkan kita bersujud dengan tujuh organ tubuh. Beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan tujuh tulang.” (HR Bukhari Muslim). Ketika berbicara tentang Al-Quran, beliau menyatakan, angka 7 memiliki hubungan yang sangat erat dengan kitabullah ini. Beliau bersabda, “Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf.” (HR Bukhari Muslim).
Ketika seorang sahabat meminta Nabi menjelaskan rentang waktu untuk mengkhatamkan Al-Quran, beliau bersabda, “Khatamkan Al-Quran setiap tujuh hari, dan jangan lebih cepat dari itu.”
Demikianlah, angka 7 adalah angka yang paling istimewa dalam hadiths-hadiths Nabi.
Angka 7 dalam Kisah-kisah Al-Quran
Penyebutan angka 7 diulang-ulang dalam kisah Al-Quran. Nabi Nuh menyeru kaumnya untuk memikirkan tujuh lapis langit. Beliau berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana ALLAH menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.” (QS Nuh: 5).
Angka 7 juga disebutkan dalam kisah azab bagi kaum Nabi Hud yang dikirim kepada Qabilah Ad. ALLAH berfirman, “Kaum Ad telah dibinasakan dengan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus.”
Dalam kisah Nabi Musa disebut angka 70, yang merupakan kelipatan 7. ALLAH berfirman, “Musa memilih 70 orang dari kaumnya untuk waktu yang telah Kami tetapkan (QS Al A’raf: 155).
Penyebutan angka 7 tidak terbatas pada kehidupan dunia, tetapi kita dapatkan juga dalam kehidupan akhirat. Kata alqiyamah terulang dalam Al-Quran sebanyak 70 kali, kelipatan 7. Kata jahanam terulang 77 kali, yang bererti juga kelipatan 7. Tentang tujuh pintu jahanam, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Ia memiliki tujuh pintu. Setiap pintu untuk golongan tertentu dari mereka.” (QS Al-Hijr: 44).
Tentang azhab ALLAH pada hari kiamat, kita temukan kehadiran angka kelipatan 7. ALLAH berfirman, “Tangkaplah dia. lalu belenggulah tangannya ke lehernya, lalu masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, lalu belitlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta.” (QS Al-Haqqah: 30-32).
Jangan lupa, ALLAH juga menyebut angka 7 ketika mendeskripsikan kata-kataNYA. ALLAH berfirman, “Jika pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan menjadi tinta, lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, kata-kata ALLAH tidak akan habis-habisnya. Sesungguhnya ALLAH Maha Perkasa dan Maha Bijaksana (QS: Luqman: 27).
Angka 7 disebut untuk menunjukkan pahala yang diberikan ALLAH kepada orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan-NYA. ALLAH berfirman, “Perumpamaan orang yang menginfakkan harta di jalan ALLAH seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada 100 biji. ALLAH melipatgandakan bagi siapa yang DIA kehendaki dan ALLAH Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah).
Photobucket
Banyak orang yang tidak percaya bahawa Al-Quran adalah wahyu ALLAH. Tetapi ketika ALLAH menentang manusia agar membuat kitab seperti Al-Quran, tidak ada satu pun manusia yang mampu. Ya, Al-Quran adalah mukjizat yang luar biasa dipandang dari sudut ilmu mana pun. Sebagai kitab suci yang berlaku sepanjang masa, Al-Quran mengandung berbagai mukjizat. Mulai dari mukjizat linguistik, keghaiban, jagat raya, perubatan, matematika, dan mukjizat-mukjizat lain yang kesemuanya dapat diketahui sesuai dengan kemampuan dan waktu kapan manusia hidup.
Kemukjizatan Al-Quran yang mencakup semua bidang ilmu membuat para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu berlumba-lumba mengungkapkan keajaiban yang terkandung di dalamnya. Mereka berusaha membuktikan bahawa isi Al-Quran tidak lekang oleh waktu, sejalan dengan pemikiran manusia dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Tulisan ini disarikan dari buku Misteri Angka Tujuh dalam Mukjizat Matematika Al-Quran, karya ‘Abd Ad-Da’im Al Kahil. Ia mengulas secara mendalam kemukjizatan Al-Quran dalam bidang numerik. Ia membuktikan bahawa semua surah, ayat, kata, dan huruf dalam Al-Quran disusun ALLAH secara teratur dengan sistem berbasis angka 7 sebagai dalil bahawa ia bersumber dari Rabb 7 lapis langit.
Angka Istimewa
Tidak dapat dipungkiri, angka paling istimewa dalam Al-Quran setelah angka 1 adalah angka 7. Angka ini memiliki keistimewaan dalam berbagai rutinitas ibadah, alam semesta, dan sejarah. Apa rahsia angka ini? Mengapa ia disebut berulang-ulang di berbagai tempat dalam Al-Quran?
Bagaimana alam raya yang luas dengan setiap bahagian, orbit dan bintang-bintangnya terikat dan terkait satu sama lain? Dengan hikmah-NYA, ALLAH menetapkan hukum-hukum matematik yang tepat untuk keterkaitan alam, di antaranya hukum gravitasi. Hukum ini membumi mengelilingi matahari dan bulan menelilingi bumi.
Sebagaimana kita lihat, banyak sekali indikasi angka 7 di alam semesta dan kehidupan di sekitar kita. Kita juga melihat tatanan yang sempurna dengan basis angka 7 dalam Al-Quran. Ini menunjukkan keesaan ALLAH dan Al-Quran adalah kitabullah.
Hikmah pemilihan angka 7 sebagai poros penelitian ini adalah banyaknya indikasi angka 7 di dalam Al-Quran dan hadiths Nabi, juga pengulangan angka ini dalam tatanan yang sangat teratur di Kitabullah yang dalil-dalilnya akan dikemukakan. Ketika tahu bahawa tatanan alam semesta berbasis angka 7 dan kita menemukan angka ini terulang-ulang secara sistematik di dalam kitab suci yang diturunkan 14 abad lalu, kita yakin bahawa Pencipta alam raya adalah Yang Menurunkan Al-Quran.
Sekarang mari kita lihat kehadiran angka 7 di alam semesta. Ketika mencipta alam, ALLAH menjadikan langit berjumlah tujuh lapis, demikian juga bumi. ALLAH berfirman, “ALLAH lah yang menciptakan tujuh langit dan demikian juga bumi. Perintah ALLAH berlaku padanya agar kamu mengetahui bahawa ALLAH Maha Kuasa atas segala sesuatu dengan ilmu-NYA.” (QS Ath-Thalaq: 12).
Bahkan atom, sebagai unit fundamental struktur alam semesta, juga tersusun dari tujuh lapisan elektron. Tidak mungkin lebih. Jumlah hari dalam minggu tujuh, jumlah not musik tujuh, jumlah warna tujuh, dan para geologi menemukan bahawa bola bumi tersusun dari tujuh tingkatan.
Angka 7 juga menampakkan kehadiran yang nyata dalam sunnah Nabi. Beliau telah menyampaikan banyak sekali hadiths dan angka 7 memiliki “jatah” yang besar di dalamnya. Ini menunjukkan urgensi angka ini serta keragaman indikasi dan rahsianya.
Ketika menerangkan hal-hal yang merosak, Rasulullah membatasinya pada tujuh hal. Beliau bersabda, “Jauhilah tujuh hal yang merosak.”
Ketika menerangkan perihal kezhaliman dan mengambil tanah orang lain tanpa alasan, beliau menjadikan angka 7 sebagai simbol azhab pada hari kiamat, dan bersabda: “Orang yang menzhalimi orang lain walau hanya beberapa jengkal tanah, akan dikalungkan kepadanya azhab dari tujuh bumi.” (HR Bukhari Muslim).
Nabi menerangkan bahawa ALLAH memerintahkan kita bersujud dengan tujuh organ tubuh. Beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk bersujud dengan tujuh tulang.” (HR Bukhari Muslim). Ketika berbicara tentang Al-Quran, beliau menyatakan, angka 7 memiliki hubungan yang sangat erat dengan kitabullah ini. Beliau bersabda, “Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf.” (HR Bukhari Muslim).
Ketika seorang sahabat meminta Nabi menjelaskan rentang waktu untuk mengkhatamkan Al-Quran, beliau bersabda, “Khatamkan Al-Quran setiap tujuh hari, dan jangan lebih cepat dari itu.”
Demikianlah, angka 7 adalah angka yang paling istimewa dalam hadiths-hadiths Nabi.
Angka 7 dalam Kisah-kisah Al-Quran
Penyebutan angka 7 diulang-ulang dalam kisah Al-Quran. Nabi Nuh menyeru kaumnya untuk memikirkan tujuh lapis langit. Beliau berkata kepada mereka, “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana ALLAH menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.” (QS Nuh: 5).
Angka 7 juga disebutkan dalam kisah azab bagi kaum Nabi Hud yang dikirim kepada Qabilah Ad. ALLAH berfirman, “Kaum Ad telah dibinasakan dengan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus.”
Dalam kisah Nabi Musa disebut angka 70, yang merupakan kelipatan 7. ALLAH berfirman, “Musa memilih 70 orang dari kaumnya untuk waktu yang telah Kami tetapkan (QS Al A’raf: 155).
Penyebutan angka 7 tidak terbatas pada kehidupan dunia, tetapi kita dapatkan juga dalam kehidupan akhirat. Kata alqiyamah terulang dalam Al-Quran sebanyak 70 kali, kelipatan 7. Kata jahanam terulang 77 kali, yang bererti juga kelipatan 7. Tentang tujuh pintu jahanam, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Ia memiliki tujuh pintu. Setiap pintu untuk golongan tertentu dari mereka.” (QS Al-Hijr: 44).
Tentang azhab ALLAH pada hari kiamat, kita temukan kehadiran angka kelipatan 7. ALLAH berfirman, “Tangkaplah dia. lalu belenggulah tangannya ke lehernya, lalu masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala, lalu belitlah dia dengan rantai yang panjangnya 70 hasta.” (QS Al-Haqqah: 30-32).
Jangan lupa, ALLAH juga menyebut angka 7 ketika mendeskripsikan kata-kataNYA. ALLAH berfirman, “Jika pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan menjadi tinta, lalu ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, kata-kata ALLAH tidak akan habis-habisnya. Sesungguhnya ALLAH Maha Perkasa dan Maha Bijaksana (QS: Luqman: 27).
Angka 7 disebut untuk menunjukkan pahala yang diberikan ALLAH kepada orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan-NYA. ALLAH berfirman, “Perumpamaan orang yang menginfakkan harta di jalan ALLAH seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada setiap tangkai ada 100 biji. ALLAH melipatgandakan bagi siapa yang DIA kehendaki dan ALLAH Maha Luas lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah).
Keajaiban Al Quran dan Misteri Angka 19
Misteri???? hi…. jadi takut… Eits tunggu dulu. ini bukan misteri sembarang misteri. Ini adalah seputar misteri angka 19 dalam keajaiban Al Quran. Tertarik? ada apa sih di balik angka 19 ntu? langsung saja pantengin terus tulisan di bawah ini sampe slese…
Kamu semua pasti dah tau kalo Al Quran adalah sumber utama keimanan dan amalan ibadah kaum muslimin yang menyangkut segenap aspek kehidupan dalam manusia. Setiap penggal informasi dalam Al Quran, hari demi hari semakin mengungkap keajaiban.(Ck,Ck,Ck)
Mukjizat AlQur an diakui oleh berbagai pihak, baik orang beriman maupun orang kafir. Sejak dulu hingga kini, bahkan hingga akhir zaman, tak ada kitab yang mampu menandingi keindahan gaya bahasanya. Cukup banyak pujangga dan sastrawan yang menulis puisi namun tak satupun yang berhasil mampu menandingi keindahan Al Quran. Kitab suci ini dijamin keontetikannya sepanjang masa. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.” (QS Al Hijr:9).
Tak satu huruf pun dapat ditambahkan, tak satu huruf pun bisa dikurangi dari Al-Quran. Bahkan tak satu pun titik boleh digeser dari satu huruf ke huruf lain. Jika ada yang mencoba melakukan perubahan pada Al-Quran hal tersebut dapat diketahui dengan mudah. Sebab begitu banyak penghafal Al-Quran dari masa ke masa. Dan tak satu pun kitab di dunia ini yang abadi seperti keabadian al-Quran.
Belum pernah ada dalam sejarah keajaiban di dunia ada sebuah benda yang semisterius dan semenarik seperti apa yang digambarkan ayat-ayat Al-Quran, kata pr kata, ayat per ayat. Bahkan dalam pengucapan huruf dan kata-katanya muncul melodi indah dalam susunan tangga nada yang rumit. Salah satu misteri kerumitan itu terletak pada angka 19.
Dalam al-Quran terdapat 9 surah yang memiliki lebih dari 128 ayat. Dari 9 surah tersebut ada 19 ayat yang merupakan kelipatan dari 128 atau 129. Penjumlahan dari 19 ayat itu adalah 2.698 (19 x 142). Dan angka 2.698 bukan angka sembarangan. Karena kata Allah dalam Al-Quran ditulis sebanyak 2.698 kali.
Mungkinkah itu sebuah kebetulan? Atau hasil rekayasa digital dari abad ke-6 Masehi? Padahal struktur digital 114 surah dalam Al-Quran itu bisa dihafal oleh para penghafal al-Quran bahkan dibaca dengan suara mengalun dengan tujuh macam gaya yang disebut qiroah as-sab’ah.
Tapi bagaimana menjelaskan angka 19 itu? Jika kita bisa meng-coding bilangan biner (1 dan 0 ) dalam komputer, Al-Quran di-coding dengan bilangan 1.9. Keduanya adalah bilangan primer yang tidak bisa dibagi kecuali dengan dirinya sendiri. Berbeda dengan konsep kebanyakan filsafat yang mengacu pada angka 12 ( 12 bulan, 12 untuk selusin, 12 shio cina, 12 zodiak, dan kemudahan bagi rata dalam bilangan 12), Al-Quran memberikan angka 19.
Di sinilah keunikan itu terjadi. Jumlah 114 sebagai jumlah surah dalam Al-Quran adalah hasil dari 6x 19 =144. Dan uniknya angka 619 juga merupakan deret bilangan prima yang ke-114. (1,3,5, dan seterusnya sampai suku ke 114). Dan terakhir kalimat Wahdahu La Syarikalahu ( Tuhan Maha Esa, tidak bisa disekutukan), secara geometris memiliki nilai 619 dan secara semantic memiliki arti prima. Dan bilangan prima tidak boleh di-syirkah, diduakan atau dibagi dua.
Belum lagi makna yang tersirat tentang bilangan ganjil sebagai bilangan yang mengandung keutaman dalam Islam. Iman Islam disusun dari bilangan prima pada deret ke-144, dan bilangan prima menempati posisi istimewa dalam susunan ini.
Bukan itu saja. Pada tahun 1999 para ilmuwan telah menemukan elemen ke-144 dalam tabel periodic elemen kimia dengan fraksi paling kecil yang sangat dinamis. Para ilmuwan sepakat akan sulit lagi untuk menemukan bilangan atom selanjutnya. Dengan demikian secara kauniyah alam telah menjelaskan keberpihakannya pada agama Allah.
Sungguh merupakan suatu keajaiban jika kita mencermati fakta-fakta berikut. Kelima ayat pertama dari wahyu pertama yang turun yaitu surah Al-Alaq terdiri atas 19 kata. Dan 19 kata tersebut terdiri dari 76 huruf yang merupakan kelipatan dari angka 19 (4×19=76). Dalam Al-Quran, surat Al-Alaq berada di urutan ke-96. Jika dihitung terbalik dari belakang, surah tersebut berada pada urutan ke-19.
Mengapa angka 19? Angka ini unik, karena tidak memiliki pembagi, alaias tidak bisa dibagi. Dalam matematika, angka 19 dianggap sebagai bilangan prima yang unik, karena terdiri dari bilangan terkecil yaitu 1 dan bilangan terbesar yaitu 9, seperti alfa dan omega dalam susunan abjad.
Sungguh ajaib pula bahwa jumlah huruf dalam kalimat Bismillahi rahmanir rahim adalah juga 19. Dalam Al-Quran kata ism ( nama) muncul sebanyak 19 kali, sedangkan kata Allah terdapat 2.698 alias 19 x 142, sedangkan Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) muncul 57 kali (19×3), sementara Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) muncul 114 kali (19×6), angka yang sama dengan jumlah surah dalam al-Quran.
Ini tenulah hanya secuil keajaiban Al-Quran. Segudang keajaiban kitab suci wahyu Allah SWT ini belum banyak yang terpecahkan oleh kemampuan otak manusia yang sangat terbatas.
Kamu semua pasti dah tau kalo Al Quran adalah sumber utama keimanan dan amalan ibadah kaum muslimin yang menyangkut segenap aspek kehidupan dalam manusia. Setiap penggal informasi dalam Al Quran, hari demi hari semakin mengungkap keajaiban.(Ck,Ck,Ck)
Mukjizat AlQur an diakui oleh berbagai pihak, baik orang beriman maupun orang kafir. Sejak dulu hingga kini, bahkan hingga akhir zaman, tak ada kitab yang mampu menandingi keindahan gaya bahasanya. Cukup banyak pujangga dan sastrawan yang menulis puisi namun tak satupun yang berhasil mampu menandingi keindahan Al Quran. Kitab suci ini dijamin keontetikannya sepanjang masa. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami pula yang benar-benar memeliharanya.” (QS Al Hijr:9).
Tak satu huruf pun dapat ditambahkan, tak satu huruf pun bisa dikurangi dari Al-Quran. Bahkan tak satu pun titik boleh digeser dari satu huruf ke huruf lain. Jika ada yang mencoba melakukan perubahan pada Al-Quran hal tersebut dapat diketahui dengan mudah. Sebab begitu banyak penghafal Al-Quran dari masa ke masa. Dan tak satu pun kitab di dunia ini yang abadi seperti keabadian al-Quran.
Belum pernah ada dalam sejarah keajaiban di dunia ada sebuah benda yang semisterius dan semenarik seperti apa yang digambarkan ayat-ayat Al-Quran, kata pr kata, ayat per ayat. Bahkan dalam pengucapan huruf dan kata-katanya muncul melodi indah dalam susunan tangga nada yang rumit. Salah satu misteri kerumitan itu terletak pada angka 19.
Dalam al-Quran terdapat 9 surah yang memiliki lebih dari 128 ayat. Dari 9 surah tersebut ada 19 ayat yang merupakan kelipatan dari 128 atau 129. Penjumlahan dari 19 ayat itu adalah 2.698 (19 x 142). Dan angka 2.698 bukan angka sembarangan. Karena kata Allah dalam Al-Quran ditulis sebanyak 2.698 kali.
Mungkinkah itu sebuah kebetulan? Atau hasil rekayasa digital dari abad ke-6 Masehi? Padahal struktur digital 114 surah dalam Al-Quran itu bisa dihafal oleh para penghafal al-Quran bahkan dibaca dengan suara mengalun dengan tujuh macam gaya yang disebut qiroah as-sab’ah.
Tapi bagaimana menjelaskan angka 19 itu? Jika kita bisa meng-coding bilangan biner (1 dan 0 ) dalam komputer, Al-Quran di-coding dengan bilangan 1.9. Keduanya adalah bilangan primer yang tidak bisa dibagi kecuali dengan dirinya sendiri. Berbeda dengan konsep kebanyakan filsafat yang mengacu pada angka 12 ( 12 bulan, 12 untuk selusin, 12 shio cina, 12 zodiak, dan kemudahan bagi rata dalam bilangan 12), Al-Quran memberikan angka 19.
Di sinilah keunikan itu terjadi. Jumlah 114 sebagai jumlah surah dalam Al-Quran adalah hasil dari 6x 19 =144. Dan uniknya angka 619 juga merupakan deret bilangan prima yang ke-114. (1,3,5, dan seterusnya sampai suku ke 114). Dan terakhir kalimat Wahdahu La Syarikalahu ( Tuhan Maha Esa, tidak bisa disekutukan), secara geometris memiliki nilai 619 dan secara semantic memiliki arti prima. Dan bilangan prima tidak boleh di-syirkah, diduakan atau dibagi dua.
Belum lagi makna yang tersirat tentang bilangan ganjil sebagai bilangan yang mengandung keutaman dalam Islam. Iman Islam disusun dari bilangan prima pada deret ke-144, dan bilangan prima menempati posisi istimewa dalam susunan ini.
Bukan itu saja. Pada tahun 1999 para ilmuwan telah menemukan elemen ke-144 dalam tabel periodic elemen kimia dengan fraksi paling kecil yang sangat dinamis. Para ilmuwan sepakat akan sulit lagi untuk menemukan bilangan atom selanjutnya. Dengan demikian secara kauniyah alam telah menjelaskan keberpihakannya pada agama Allah.
Sungguh merupakan suatu keajaiban jika kita mencermati fakta-fakta berikut. Kelima ayat pertama dari wahyu pertama yang turun yaitu surah Al-Alaq terdiri atas 19 kata. Dan 19 kata tersebut terdiri dari 76 huruf yang merupakan kelipatan dari angka 19 (4×19=76). Dalam Al-Quran, surat Al-Alaq berada di urutan ke-96. Jika dihitung terbalik dari belakang, surah tersebut berada pada urutan ke-19.
Mengapa angka 19? Angka ini unik, karena tidak memiliki pembagi, alaias tidak bisa dibagi. Dalam matematika, angka 19 dianggap sebagai bilangan prima yang unik, karena terdiri dari bilangan terkecil yaitu 1 dan bilangan terbesar yaitu 9, seperti alfa dan omega dalam susunan abjad.
Sungguh ajaib pula bahwa jumlah huruf dalam kalimat Bismillahi rahmanir rahim adalah juga 19. Dalam Al-Quran kata ism ( nama) muncul sebanyak 19 kali, sedangkan kata Allah terdapat 2.698 alias 19 x 142, sedangkan Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) muncul 57 kali (19×3), sementara Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) muncul 114 kali (19×6), angka yang sama dengan jumlah surah dalam al-Quran.
Ini tenulah hanya secuil keajaiban Al-Quran. Segudang keajaiban kitab suci wahyu Allah SWT ini belum banyak yang terpecahkan oleh kemampuan otak manusia yang sangat terbatas.
hukum rajam
“hukum rajam” ketegori Muslim. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Ustadz, apakah yang di maksud dengan hukum rajam? Apakah benar hukuman ini hanya berlaku bagi wanita? Mohon penjelasannya, terima kasih.
Wassalam,
Herlina Melani
Jawaban
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهبسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله ، وبعد
Hukuman rajam adalah hukuman mati dengan cara dilempari batu. Cara menghukum seperti ini tidak dilakukan kecuali dalam kasus yang sangat tercela dan hanya bila penerima hukuman benar-benar terbukti dengan teramat meyakinkan melakukan sebuah larangan yang berat.
Hukuman rajam sebenarnya sudah ada sejak para nabi dan rasul di masa lalu sebelum era umat nabi Muhammad SAW. Hukuman seperti itu berlaku secara resmi di dalam syariat Yahudi dan Nasrani . Dan tidak dikutuk umat terdahulu kecuali karena mereka meninggalkan hukum dan syariat yang telah Allah tetapkan.
إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya petunjuk dan cahaya , yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
Allah SWT kemudian menghapus berbagai macam syariat yang pernah diturunkan-Nya kepada sekian banyak kelompok umat kemudian diganti dengan satu syariat saja, yaitu yang diturunkan kepada umat Muhammad SAW. Namun ternyata Allah SWT masih memberlakukan hukuman rajam. Walaupun dengan pendekatan yang jauh lebih moderat dan manusiawi.
Secara nalar aqidah, dengan tetap diberlakukannya hukuman rajam oleh Allah pada syariat umat Muhammad SAW, kita bisa meyakini bahwa bentuk hukuman seperti ini memang dalam kasus-kasus tertentu masih diperlukan. Meski umat manusia di abad 20 ini seringkali menginginkan dihapuskannya hukuman mati, namun ternyata hukuman mati itu masih diperlukan, bahkan di beberapa negara yang maju, masih berlaku dan tetap terjadi sampai sekarang.
Singapura yang sering dijadikan kiblat kemoderenan di Asia Tenggara, hari ini masih saja menghukum mati orang-orang yang dianggap melakukan pelanggaran berat. Demikian juga Amerika yang sekarang mengangkat dirinya sebagai polisi dunia dan simbol HAM, masih tetap memberlakukan hukuman mati. Maka kalau Allah SWT memberlakukan hukuman rajam kepada umat Islam, tentu sangat bisa diterima logika. Jangankan untuk abad ke-7 saat diberlakukan di dalam Al-Quran, bahkan negara-negara modern pada abad 21 sekarang ini masih memberlakukan hukuman mati.
Dan tentu sangat logis bila umat Islam dengan latar belakang kepatuhan dan ketundukan kepada originalitas agamanya, pada hari ini masih memberlakukan hukuman rajam buat pemeluk agamanya. Tidak ada cela dan cacat dalam pelaksanaan hukuman seperti itu, apalagi kalau dibandingkan dengan tragedi pembantaian massal yang dilakukan oleh negara maju terhadap dunia ketiga, maka pelaksanaan hukuman rajam buat pelanggar kesalahan berat menjadi tidak ada artinya.
Bandingkan dengan angka-angka pembantaian rakyat Vietnam, Afghanistan, Kamboja, Bosnia, Shabra Shatila dan belahan muka bumi lainnya. Sungguh apa yang dilakukan oleh super power dunia itu jauh lebih kejam dan sadis ketimbang hukuman rajam, yang hanya menyangkut satu orang saja. Itupun pelanggar sulisa berat, yaitu orang yang berzina dimana dia pernah menikah sebelumnya.
Dalil Tentang Kewajiban Merajam Pezina
Para ulama sepakat menyatakan bahwa pelaku zina muhshan dihukum dengan hukuman rajam, yaitu dilempari dengan batu hingga mati. Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW secara umum yaitu :
Dari Masruq dari Abdillah ra. berakta bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal : orang yang berzina, orang yang membunuh dan orang yang murtad dan keluar dari jamaah.
Selain itu, sesungguhnya hukuman rajam ini pun pernah diperintahkan di dalam Al-Quran, namun lafadznya dihapus tapi perintahnya tetap berlaku. Adalah khalifah Umar bin Al-Khattab yang menyatakan bahwa dahulu ada ayat Al-Quran yang pernah diturunkandan isinya adalah :
الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة
Orang yang sudah menikah laki-laki dan perempuan bila mereka berzina, maka rajamlah…
Namun lafadznya kemudian dinasakh , tetapi hukumnya tetap berlaku hingga hari kamat. Sehingga bisa kita katakan bahwa syariat rajam itu dilandasi bukan hanya dengan dalil sunnah, melainkan dengan dalil Al-Quran juga.
Zina Adalah Kejahatan Berat dan Sangat Berbahaya
Berbeda dengan pandangan para penganut hedonisme dan pelaku pola hidup permisif sekarang ini, di mana mereka beranggapan bahwa zina merupakan kebutuhan biologis biasa, sehingga boleh-boleh saja dilakukan asal tidak ketahuan, Allah Tuhan Yang Menciptakan manusia justru menegaskan bahwa zina adalah kejahatan tingkat tinggi dan sangat berat ancamannya. Sehingga hukumannya pun harus dibunuh, yaitu bagi mereka yang pernah menikah sebelumnya, atau dicambuk 100 kali bagi mereka yang belum pernah menikah sebelumnya.
Dan hak untuk mengatakan suatu tindakan itu adalah kejahatan adalah hak preogratif Sang Maha Pencipta. Bukan hak para seniman, atau ahli hukum, atau pun manusia lainnya. Hak itu adalah hak Tuhan sepenuhnya. Persis sebagaimana ketika Tuhan melarang Adam dan istrinya mendekati pohon. Pelangaran atas larangan itu berakibat fatal sehingga Adam as. dikeluarkan ke bumi.
Maka meski 6 milyar manusia mengatakan bahwa zina itu bukan pelanggaran berat, tetapi Tuhan Sang Maha Pencipta justru mengatakan sebaliknya. Bahwa zina adalah sebuah kekejian yang nyata, terkutuk dan terlaknat. Pelakunya berhak untuk dihukum seberat-beratnya, yaitu dengan cara dirajam. Berartidiakhiri ajalnya dan harus segera bertemu kembali kepada Pencipta-Nya, untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya.
Semua itu adalah isi kitab suci buat semua umat manusia, baik Zabur, Taurat, Injil maupun Al-Quran. Semua kitab suci yang turun dari langit sepakat bulat mengatakan bahwa zina adalah kejahatan tingkat tinggi dan pelakunya wajib dihukum mati .
Rajam dalam Syariat Islam
Rajam adalah hukuman mati dengan cara dilempar dengan batu. Karena beratnya hukuman ini, maka dalam syariat yang Allah turunkan untuk umat Muhammad SAW, sebelum dilakukan dibutuhkan syarat dan proses yang cukup pelik. Syarat itu adalah terpenuhinya kriteria ihshah yang terdiri dari rincian sebagai berikut :
#
Islam
#
Baligh
#
Akil
#
Merdeka
#
Iffah
#
Tazwij
Maksudnya adalah orang yang pernah bersetubuh dengan wanita yang halal dari nikah yang sahih. Meski ketika bersetubuh itu tidak sampai mengeluarkan mani. Ini adalah yang maksud dengan ihshan oleh Asy-Syafi`iyah. Bila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka pelaku zina itu bukan muhshan sehingga hukumannya bukan rajam.
Penetapan Vonis Zina
Dalam syariat Islam, pelaksanaan rajam bisa dilakukan namun harus ada ketetapan hukum yang sah dan pasti dari sebuah mahkamah syariah atau pengadilan syariat. Dan semua itu harus melalui proses hukum yang sesuai pula dengan ketentuan dari langit yaitu syariat Islam. Allah telah menetapkan bahwa hukuman zina hanya bisa dijatuhkan hanya melalui salah satu dari dua cara :
a. Ikrar atau pengakuan dari pelaku
Pengakuan sering disebut dengan `sayyidul adillah`, yaitu petunjuk yang paling utama. Karena pelaku langsung mengakui dan berikrar di muka hakim bahwa dirinya telah berzina, maka tidak perlu adanya saksi-saksi.
Di zaman Rasulullah SAW, hampir semua kasus perzinahan diputuskan berdasarkan pengakuan para pelaku langsung. Seperti yang dilakukan kepada Maiz dan wanita Ghamidiyah.
Teknis pengakuan atau ikrar di depan hakim adalah dengan mengucapkannya sekali saja. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Imam Malik ra., Imam Asy-Syafi`i ra., Daud, At-Thabarani dan Abu Tsaur dengan berlandaskan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada pelaku zina. Beliau memerintahkan kepada Unais untuk mendatangi wanita itu dan menanyakannya,`Bila wanita itu mengakui perbuatannya, maka rajamlah`. Hadits menjelaskan kepada kita bahwa bila seorang sudah mengaku, maka rajamlah dan tanpa memintanya mengulang-ulang pengakuannya.
Namun Imam Abu Hanifah ra. mengatakan bahwa tidak cukup hanya dengan sekali pengakuan, harus empat kali diucapkan di majelis yang berbeda. Sedangkan pendapat Al-Hanabilah dan Ishaq seperti pendapat Imam Abu Hanifah ra., kecuali bahwa mereka tidak mengharuskan diucapkan di empat tempat yang berbeda.
Bila orang yang telah berikrar bahwa dirinya berzina itu lalu mencabut kembali pengakuannya, maka hukuman hudud bisa dibatalkan. Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah, Asy-Syafi`iyyah dan Imam Ahmad bin Hanbal ra. Dasarnya adalah peristiwa yang terjadi saat eksekusi Maiz yang saat itu dia lari karena tidak tahan atas lemparan batu hukuman rajam. Lalu orang-orang mengejarnya beramai-ramai dan akhirnya mati. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau menyesali perbuatan orang-orang itu dan berkata,
`Mengapa tidak kalian biarkan saja dia lari?`
.
Sedangkan bila seseorang tidak mau mengakui perbuatan zinanya, maka tidak bisa dihukum. Meskipun pasangan zinanya telah mengaku.
Dasarnya adalah sebuah hadits berikut :
Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata bahwa dia telah berzina dengan seorang wanita. Lalu Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk memanggilnya dan menanyakannya, tapi wanita itu tidak mengakuinya. Maka Rasulullah SAW menghukum laki-laki yang mengaku dan melepaskan wanita yang tidak mengaku.
b. Adanya Saksi yang Bersumpah di Depan Mahkamah
Ketetapan bahwa seseorang telah berzina juga bisa dilakukan berdasarkan adanya saksi-saksi. Namun persaksian atas tuduhan zina itu sangat berat, karena tuduhan zina sendiri akan merusak kehormatan dan martabat seseorang, bahkan kehormatan keluarga dan juga anak keturunannya. Sehingga tidak sembarang tuduhan bisa membawa kepada ketetapan zina. Dan sebaliknya, tuduhan zina bila tidak lengkap akan menggiring penuduhnya ke hukuman yang berat.
Syarat yang harus ada dalam persaksian tuduhan zina adalah :
1.
Jumlah saksi minimal empat orang. Allah berfirman,`Dan terhadap wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu yang menyaksikan`..
2.
Bila jumlah yang bersaksi itu kurang dari empat, maka mereka yang bersaksi itulah yang harus dihukum hudud. Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab terhadap tiga orang yang bersaksi atas tuduhan zina Al-Mughirah. Mereka adalah Abu Bakarah, Nafi` dan Syibl bin Ma`bad.
3.
Para saksi ini sudah baligh semua. Bila salah satunya belum baligh, maka persaksian itu tidak syah.
4.
Para saksi ini adalah orang-orang yang waras akalnya.
5.
Para saksi ini adalah orang-orang yang beragama Islam.
6.
Para saksi ini melihat langsung dengan mata mereka peristiwa masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan wanita yang berzina.
7.
Para saksi ini bersaksi dengan bahasa yang jelas dan vulgar, bukan dengan bahasa kiasan.
8.
Para saksi melihat peristiwa zina itu bersama-sama dalam satu majelis dna dalam satu waktu. Dan bila melihatnya bergantian, maka tidak syah persksian mereka.
9.
Para saksi ini semuanya laki-laki. Bila ada salah satunya wanita, maka persaksian mereka tidak syah.
Di luar kedua hal diatas, maka tidak bisa dijadikan dasar hukuman rajam, tetapi bisa dilakukan hukuman ta`zir karena tidak menuntut proses yang telah ditetapkan dalam syariat secara baku.
Dan syarat yang paling penting adalah bahwa perbuatan zina itu dilakukan di dalam wilayah hukum yang secara formal menerapkan hukum Islam. Syarat lainnya adalah bahwa hukuman zina itu hanya boleh dilakukan oleh pemerintah yang berdaulat secara resmi. Bukan dilakuakn oleh orang per orang atau lembaga swasta. Ormas, yayasan, pesantren, pengajian, jamaah majelis taklim, perkumpulan atau pun majelis ulama tidak berhak melakukannya, kecuali ada mandat resmi dari pemerintahan yang berkuasa.
Sehingga semua kasus zina di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang bisa diterapkan hukum rajam, sebab secara formal pemerintah negara ini tidak memberlakukan hukum Islam. Tentu saja perbuatan itu tetap harus dipertanggung-jawabkan di mahkamah tertinggi di alam akhirat nanti. Baik bagi si pelaku zina maupun di penguasa yang tidak menjalankan hukum Allah.
Ustadz, apakah yang di maksud dengan hukum rajam? Apakah benar hukuman ini hanya berlaku bagi wanita? Mohon penjelasannya, terima kasih.
Wassalam,
Herlina Melani
Jawaban
السلام عليكم ورحمة الله وبركاتهبسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله ، وبعد
Hukuman rajam adalah hukuman mati dengan cara dilempari batu. Cara menghukum seperti ini tidak dilakukan kecuali dalam kasus yang sangat tercela dan hanya bila penerima hukuman benar-benar terbukti dengan teramat meyakinkan melakukan sebuah larangan yang berat.
Hukuman rajam sebenarnya sudah ada sejak para nabi dan rasul di masa lalu sebelum era umat nabi Muhammad SAW. Hukuman seperti itu berlaku secara resmi di dalam syariat Yahudi dan Nasrani . Dan tidak dikutuk umat terdahulu kecuali karena mereka meninggalkan hukum dan syariat yang telah Allah tetapkan.
إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya petunjuk dan cahaya , yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
Allah SWT kemudian menghapus berbagai macam syariat yang pernah diturunkan-Nya kepada sekian banyak kelompok umat kemudian diganti dengan satu syariat saja, yaitu yang diturunkan kepada umat Muhammad SAW. Namun ternyata Allah SWT masih memberlakukan hukuman rajam. Walaupun dengan pendekatan yang jauh lebih moderat dan manusiawi.
Secara nalar aqidah, dengan tetap diberlakukannya hukuman rajam oleh Allah pada syariat umat Muhammad SAW, kita bisa meyakini bahwa bentuk hukuman seperti ini memang dalam kasus-kasus tertentu masih diperlukan. Meski umat manusia di abad 20 ini seringkali menginginkan dihapuskannya hukuman mati, namun ternyata hukuman mati itu masih diperlukan, bahkan di beberapa negara yang maju, masih berlaku dan tetap terjadi sampai sekarang.
Singapura yang sering dijadikan kiblat kemoderenan di Asia Tenggara, hari ini masih saja menghukum mati orang-orang yang dianggap melakukan pelanggaran berat. Demikian juga Amerika yang sekarang mengangkat dirinya sebagai polisi dunia dan simbol HAM, masih tetap memberlakukan hukuman mati. Maka kalau Allah SWT memberlakukan hukuman rajam kepada umat Islam, tentu sangat bisa diterima logika. Jangankan untuk abad ke-7 saat diberlakukan di dalam Al-Quran, bahkan negara-negara modern pada abad 21 sekarang ini masih memberlakukan hukuman mati.
Dan tentu sangat logis bila umat Islam dengan latar belakang kepatuhan dan ketundukan kepada originalitas agamanya, pada hari ini masih memberlakukan hukuman rajam buat pemeluk agamanya. Tidak ada cela dan cacat dalam pelaksanaan hukuman seperti itu, apalagi kalau dibandingkan dengan tragedi pembantaian massal yang dilakukan oleh negara maju terhadap dunia ketiga, maka pelaksanaan hukuman rajam buat pelanggar kesalahan berat menjadi tidak ada artinya.
Bandingkan dengan angka-angka pembantaian rakyat Vietnam, Afghanistan, Kamboja, Bosnia, Shabra Shatila dan belahan muka bumi lainnya. Sungguh apa yang dilakukan oleh super power dunia itu jauh lebih kejam dan sadis ketimbang hukuman rajam, yang hanya menyangkut satu orang saja. Itupun pelanggar sulisa berat, yaitu orang yang berzina dimana dia pernah menikah sebelumnya.
Dalil Tentang Kewajiban Merajam Pezina
Para ulama sepakat menyatakan bahwa pelaku zina muhshan dihukum dengan hukuman rajam, yaitu dilempari dengan batu hingga mati. Dalilnya adalah hadits Rasulullah SAW secara umum yaitu :
Dari Masruq dari Abdillah ra. berakta bahwa Rasulullah SAW bersabda, Tidak halal darah seorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal : orang yang berzina, orang yang membunuh dan orang yang murtad dan keluar dari jamaah.
Selain itu, sesungguhnya hukuman rajam ini pun pernah diperintahkan di dalam Al-Quran, namun lafadznya dihapus tapi perintahnya tetap berlaku. Adalah khalifah Umar bin Al-Khattab yang menyatakan bahwa dahulu ada ayat Al-Quran yang pernah diturunkandan isinya adalah :
الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة
Orang yang sudah menikah laki-laki dan perempuan bila mereka berzina, maka rajamlah…
Namun lafadznya kemudian dinasakh , tetapi hukumnya tetap berlaku hingga hari kamat. Sehingga bisa kita katakan bahwa syariat rajam itu dilandasi bukan hanya dengan dalil sunnah, melainkan dengan dalil Al-Quran juga.
Zina Adalah Kejahatan Berat dan Sangat Berbahaya
Berbeda dengan pandangan para penganut hedonisme dan pelaku pola hidup permisif sekarang ini, di mana mereka beranggapan bahwa zina merupakan kebutuhan biologis biasa, sehingga boleh-boleh saja dilakukan asal tidak ketahuan, Allah Tuhan Yang Menciptakan manusia justru menegaskan bahwa zina adalah kejahatan tingkat tinggi dan sangat berat ancamannya. Sehingga hukumannya pun harus dibunuh, yaitu bagi mereka yang pernah menikah sebelumnya, atau dicambuk 100 kali bagi mereka yang belum pernah menikah sebelumnya.
Dan hak untuk mengatakan suatu tindakan itu adalah kejahatan adalah hak preogratif Sang Maha Pencipta. Bukan hak para seniman, atau ahli hukum, atau pun manusia lainnya. Hak itu adalah hak Tuhan sepenuhnya. Persis sebagaimana ketika Tuhan melarang Adam dan istrinya mendekati pohon. Pelangaran atas larangan itu berakibat fatal sehingga Adam as. dikeluarkan ke bumi.
Maka meski 6 milyar manusia mengatakan bahwa zina itu bukan pelanggaran berat, tetapi Tuhan Sang Maha Pencipta justru mengatakan sebaliknya. Bahwa zina adalah sebuah kekejian yang nyata, terkutuk dan terlaknat. Pelakunya berhak untuk dihukum seberat-beratnya, yaitu dengan cara dirajam. Berartidiakhiri ajalnya dan harus segera bertemu kembali kepada Pencipta-Nya, untuk mempertanggung-jawabkan perbuatannya.
Semua itu adalah isi kitab suci buat semua umat manusia, baik Zabur, Taurat, Injil maupun Al-Quran. Semua kitab suci yang turun dari langit sepakat bulat mengatakan bahwa zina adalah kejahatan tingkat tinggi dan pelakunya wajib dihukum mati .
Rajam dalam Syariat Islam
Rajam adalah hukuman mati dengan cara dilempar dengan batu. Karena beratnya hukuman ini, maka dalam syariat yang Allah turunkan untuk umat Muhammad SAW, sebelum dilakukan dibutuhkan syarat dan proses yang cukup pelik. Syarat itu adalah terpenuhinya kriteria ihshah yang terdiri dari rincian sebagai berikut :
#
Islam
#
Baligh
#
Akil
#
Merdeka
#
Iffah
#
Tazwij
Maksudnya adalah orang yang pernah bersetubuh dengan wanita yang halal dari nikah yang sahih. Meski ketika bersetubuh itu tidak sampai mengeluarkan mani. Ini adalah yang maksud dengan ihshan oleh Asy-Syafi`iyah. Bila salah satu syarat di atas tidak terpenuhi, maka pelaku zina itu bukan muhshan sehingga hukumannya bukan rajam.
Penetapan Vonis Zina
Dalam syariat Islam, pelaksanaan rajam bisa dilakukan namun harus ada ketetapan hukum yang sah dan pasti dari sebuah mahkamah syariah atau pengadilan syariat. Dan semua itu harus melalui proses hukum yang sesuai pula dengan ketentuan dari langit yaitu syariat Islam. Allah telah menetapkan bahwa hukuman zina hanya bisa dijatuhkan hanya melalui salah satu dari dua cara :
a. Ikrar atau pengakuan dari pelaku
Pengakuan sering disebut dengan `sayyidul adillah`, yaitu petunjuk yang paling utama. Karena pelaku langsung mengakui dan berikrar di muka hakim bahwa dirinya telah berzina, maka tidak perlu adanya saksi-saksi.
Di zaman Rasulullah SAW, hampir semua kasus perzinahan diputuskan berdasarkan pengakuan para pelaku langsung. Seperti yang dilakukan kepada Maiz dan wanita Ghamidiyah.
Teknis pengakuan atau ikrar di depan hakim adalah dengan mengucapkannya sekali saja. Hal itu seperti yang dikatakan oleh Imam Malik ra., Imam Asy-Syafi`i ra., Daud, At-Thabarani dan Abu Tsaur dengan berlandaskan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW kepada pelaku zina. Beliau memerintahkan kepada Unais untuk mendatangi wanita itu dan menanyakannya,`Bila wanita itu mengakui perbuatannya, maka rajamlah`. Hadits menjelaskan kepada kita bahwa bila seorang sudah mengaku, maka rajamlah dan tanpa memintanya mengulang-ulang pengakuannya.
Namun Imam Abu Hanifah ra. mengatakan bahwa tidak cukup hanya dengan sekali pengakuan, harus empat kali diucapkan di majelis yang berbeda. Sedangkan pendapat Al-Hanabilah dan Ishaq seperti pendapat Imam Abu Hanifah ra., kecuali bahwa mereka tidak mengharuskan diucapkan di empat tempat yang berbeda.
Bila orang yang telah berikrar bahwa dirinya berzina itu lalu mencabut kembali pengakuannya, maka hukuman hudud bisa dibatalkan. Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah, Asy-Syafi`iyyah dan Imam Ahmad bin Hanbal ra. Dasarnya adalah peristiwa yang terjadi saat eksekusi Maiz yang saat itu dia lari karena tidak tahan atas lemparan batu hukuman rajam. Lalu orang-orang mengejarnya beramai-ramai dan akhirnya mati. Ketika hal itu disampaikan kepada Rasulullah SAW, beliau menyesali perbuatan orang-orang itu dan berkata,
`Mengapa tidak kalian biarkan saja dia lari?`
.
Sedangkan bila seseorang tidak mau mengakui perbuatan zinanya, maka tidak bisa dihukum. Meskipun pasangan zinanya telah mengaku.
Dasarnya adalah sebuah hadits berikut :
Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata bahwa dia telah berzina dengan seorang wanita. Lalu Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk memanggilnya dan menanyakannya, tapi wanita itu tidak mengakuinya. Maka Rasulullah SAW menghukum laki-laki yang mengaku dan melepaskan wanita yang tidak mengaku.
b. Adanya Saksi yang Bersumpah di Depan Mahkamah
Ketetapan bahwa seseorang telah berzina juga bisa dilakukan berdasarkan adanya saksi-saksi. Namun persaksian atas tuduhan zina itu sangat berat, karena tuduhan zina sendiri akan merusak kehormatan dan martabat seseorang, bahkan kehormatan keluarga dan juga anak keturunannya. Sehingga tidak sembarang tuduhan bisa membawa kepada ketetapan zina. Dan sebaliknya, tuduhan zina bila tidak lengkap akan menggiring penuduhnya ke hukuman yang berat.
Syarat yang harus ada dalam persaksian tuduhan zina adalah :
1.
Jumlah saksi minimal empat orang. Allah berfirman,`Dan terhadap wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu yang menyaksikan`..
2.
Bila jumlah yang bersaksi itu kurang dari empat, maka mereka yang bersaksi itulah yang harus dihukum hudud. Dalilnya adalah apa yang dilakukan oleh Umar bin Al-Khattab terhadap tiga orang yang bersaksi atas tuduhan zina Al-Mughirah. Mereka adalah Abu Bakarah, Nafi` dan Syibl bin Ma`bad.
3.
Para saksi ini sudah baligh semua. Bila salah satunya belum baligh, maka persaksian itu tidak syah.
4.
Para saksi ini adalah orang-orang yang waras akalnya.
5.
Para saksi ini adalah orang-orang yang beragama Islam.
6.
Para saksi ini melihat langsung dengan mata mereka peristiwa masuknya kemaluan laki-laki ke dalam kemaluan wanita yang berzina.
7.
Para saksi ini bersaksi dengan bahasa yang jelas dan vulgar, bukan dengan bahasa kiasan.
8.
Para saksi melihat peristiwa zina itu bersama-sama dalam satu majelis dna dalam satu waktu. Dan bila melihatnya bergantian, maka tidak syah persksian mereka.
9.
Para saksi ini semuanya laki-laki. Bila ada salah satunya wanita, maka persaksian mereka tidak syah.
Di luar kedua hal diatas, maka tidak bisa dijadikan dasar hukuman rajam, tetapi bisa dilakukan hukuman ta`zir karena tidak menuntut proses yang telah ditetapkan dalam syariat secara baku.
Dan syarat yang paling penting adalah bahwa perbuatan zina itu dilakukan di dalam wilayah hukum yang secara formal menerapkan hukum Islam. Syarat lainnya adalah bahwa hukuman zina itu hanya boleh dilakukan oleh pemerintah yang berdaulat secara resmi. Bukan dilakuakn oleh orang per orang atau lembaga swasta. Ormas, yayasan, pesantren, pengajian, jamaah majelis taklim, perkumpulan atau pun majelis ulama tidak berhak melakukannya, kecuali ada mandat resmi dari pemerintahan yang berkuasa.
Sehingga semua kasus zina di Indonesia ini, tidak ada satu pun yang bisa diterapkan hukum rajam, sebab secara formal pemerintah negara ini tidak memberlakukan hukum Islam. Tentu saja perbuatan itu tetap harus dipertanggung-jawabkan di mahkamah tertinggi di alam akhirat nanti. Baik bagi si pelaku zina maupun di penguasa yang tidak menjalankan hukum Allah.
Tentang Keutamaan Puasa
Banyak sekali ayat yg tegas dan muhkam (Qathi) dalam kitabullah yg mulia memberikan anjuran utk puasa sebagai sarana utk Taqorrub (mendekatkan diri) kepada Allah Azza wa Jalla dan menjelaskan keutamaan-keutamaan seperti firman Allah Taala yg arti :
“Sesungguh kaum muslimin dan muslimat kaum mukminin dan mukminat kaum pria yg patuh dan kaum wanita yg patuh dan kaum pria serta wanita yg benar (imannya) dan kaum pria serta wanita yg sabar (ketaatannya) dan kaum pria serta wanita yg khusyu dan kaum pria serta wanita yg bersedeekah dan kaum pria serta wanita yg berpuasa dan kaum pria dan wanita yg menjaga kehormatan (syahwat birahinya) dan kaum pria serta kaum wanita yg banyak mengingat Allah. Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yg besar.” (Surat Al-Ahzab : 35)
Dan firman Allah yg arti “Dan kalau kalian puasa itu lbh baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya“. (Surat Al-Baqoroh : 184)
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan dalam hadits yg shahih bahwa puasa adl benteng dari syahwat perisai dari neraka Allah Tabaraka wa Taala telah mengkhususkan satu pintu syurga utk orang yg puasa puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwat menahan dari kebiasaan-kebiasaan yg jelek hingga jadilah jiwa yg tenang. Inilah pahala yg besar keutamaan yg agung dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini dijelaskan dgn penjelasan yg sempurna.
1. Puasa adl PerisaiRasulullah Shalallahu alaihi wasallam menyuruh orang yg sudah kuat syahwat dan belum mampu utk menikah agar berpuasa menjadikan sebagai wijaa (pemutus syahwat jiwa) bagi syahwat ini krn puasa menahan kuat anggota badan hingga bisa terkontrol menenangkan seluruh anggota badan serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dgn belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yg menakjubkan dalam menjaga anggota badan yg dhahir dan kekuatan batin.
Oleh krn itu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Wahai sekalian para pemuda barang siapa diantara kalian telah mampu baah (menikah dgn berbagai macam persiapannya) hendak menikah krn menikah lbh menundukan pandangan dan lbh menjaga kehormatan. Barang siapa yg belum mampu menikah hendaklah puasa krn puasa merupakan wijaa (pemutus syahwat) baginya.” HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400) dari Ibnu Masud
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa syurga diliputi dgn perkara-perkara yg tak disenangi dan neraka diliputi dgn syahwat jika telah jelas demikian -wahai muslimin- sesungguh puasa itu menghancurkan syahwat mematahkan tajam syahwat yg bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka puasa menghalangi orang yg puasa dari neraka oleh krn itu banyak hadits yg menegaskan bahwa puasa adl benteng dari neraka dan perisai yg menghalangi seseorang dari neraka.
Bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam “Tidaklah ada seorang hamba yg puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim “. (HR. Bukhori (6/35) Muslim (1153) dari Abu Said AlKhudri ini adl lafadh Muslim. Sabda Rasulullah Sholallahu alaihi wasalam : 70 musim yakni : perjalanan 70 tahun demikian dikatakan dalam “Fathul Bari” (6/48))
“Puasa adl perisai seoramg hamba berperisai dengan dari api neraka”. (HR. Ahmad (3/241) (3/296) dari Jabir Ahmad (4/22) dari Utsman bin Abil Ash. Ini adl hadits yg shohih).
“Barang siapa yg berpuasa sehari di jalan Allah maka diantara dia dan neraka ada parit yg luas seperti antara langit dgn bumi“. (Dikeluarkan oleh Tirmidzi (no. 1624) dari hadits Abi Umamah)
Sebagian Ahlul Ilmi telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah namun dhahir hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dgn ikhlas krn mengharapkan wajah Allah Taala sesuai dgn apa yg dijelaskan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam termasuk puasa di jalan. (yang disebutkan di dalam hadits ini)
2. Puasa bisa memasukan seorang hamba ke dalam syurga
Engkau telah tahu wahai hamba Allah yg taat mudah-mudahan Allah memberimu taufik utk mentaati-Nya menguatkanmu dgn ruh dari-Nya bahwa puasa menjauhkan orang yg mengamalkan dari neraka. Jika demikian berarti mendekatkan ke bagian pertengahan syurga.
Dari Abi Umamah radhiallahu anhu “Aku berkata : “Ya Rasulullahu Shalallahu alaihi wasallam tunjukkan padaku amalan yg bisa memasukanku ke syurga; beliau menjawab: “Atasmu puasa tak ada (amalan) yg semisal dgn itu.” (HR NasaI (4/165) Ibnu Hibban (hal. 232 Mawarid) Al-Hakim (1/421) sanad SHAHIH)
3. Diberi pahala yg tak terhitung
4. Orang yg berpuasa punya dua kegembiraan
5. Bau mulut orang yg puasa lbh wangi dari bau miskDari Abi Hurairah radhiallahu anhu : Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Semua amalan bani Adam untuk kecuali puasa (pahala tak terbatas) krn puasa itu utk Aku dan Aku akan membalas puasa adl perisai jika salah seorang kalian sedang puasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak jika ada orang yg mencerca atau memerangi ucapkankanlah : “Aku orang yg sedang puasa (ucapan dgn lisan) [1] demi Dzat yg jiwa Muhammad di tangan-Nya sesungguh bau mulut orang yg puasa lbh wangi di sisi Allah daripada bau minyak misk [2] orang yg puasa punya dua kegembiraan jika berbuka gembira jika bertemu dgn Rabb gembira krn puasa yg dia lakukan.” (HR. Bukhri (4/88) Muslim (no. 1151) ini lafadz Bukhori)
Dalam riwayat Bukhori :”Meninggalkan makan minum dan syahwat krn Aku puasa itu untuk-Ku. dan Aku yg akan membalasnya. kebaikan dibalas dgn sepuluh kali lipat.”
Dalam riwayat Muslim “Semua amalan Ibnu Adam dilipat gandakan kebaikan dibalas dgn sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat Allah Taala berfirman : Kecuali puasa krn dia itu untuk-Ku dan Aku yg akan membalas dan meninggalkan syahwat dan makanan krn Aku bagi orang yg puasa ada dua kegembiraan : gembira ketika berbuka dan gembira bertemu dgn Rabb dan sungguh bau mulut orang yg puasa disisi Allah adl lbh wangi dari pada bau misk.”
Dengan ucapan yg terdengar oleh si pencerca atau orang yg mengganggu tersebut ada yg mengatakan : diucapkan di dalam hati agar tak saling mencela dan saling memerangi. Yang pertama lbh kuat dan lbh jelas krn ucapan secara mutlak adl dgn lisan adapun bisikan jiwa dibatasi oleh sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah : “Sesunguh Allah memaafkan bagi umatku apa yg terbetik dalam hati selama belum diucapkan atau diamalkannya” (Muttafaqun alaih). Maka jelaslah bahwa ucapan itu mutlak tak terjadi kecuali oleh ucapan yg dapat dididengar dgn suara yg terucap dan huruf. Wallahu alam. Lihat apa yg telah ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilu Shayyin minal Kalami At-Thayyib hal.22-3
6. Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat kepada ahlinyaRasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat puasa akan berkata : “Wahai Rabbku aku menghalangi dari makan dan syahwat berilah dia syafaat karenaku Al-Quran pun berkata : “Aku telah menghalangi dari tidur di malam hari berilah dia syafaat. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “maka kedua memberi syafaat. [1]” (Diriwayatkan oleh Ahmad (no.6626) Hakim (1/554) Abu Nuaim (8/161) dari jalan Huyyay bin Abdullah dari Abdurrahman Al-Hubuli dari Abdullah bin Amr. Dan sanad HASAN)
7. Puasa merupakan kafaratDiantara keistimewaan puasa yg tak ada dalam amalan lain adalah; Allah menjadikan sebagai kafarat bagi orang yg memotong rambut kepala (ketika Haji) krn ada udzur sakit atau penyakit di kepala dan kafarat bagi yg tak mampu utk membeli kurban kafarat bagi pembunuh orang kafir yg punya perjanjian krn tak sengaja juga sebagai kafarat bagi yg membatalkan sumpah atau yg membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat dhihar akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini;
Allah Taala berfirman (yang artinya) :
“Dan sempurnakanlah olehmu ibadah haji dan umrah krn Allah; maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit) maka wajib menyembelih kurban yg mudah didapat. Dan janganlah kamu mencukur rambut kepala mu hingga kurban itu sampai ketempat maka barang siapa sakit atau ada gangguan di kepala maka hendaklah memberi fidyah yaitu berpuasa atau memberi shodaqoh menyembelih kurban maka ketika telah aman maka barang siapa yg melaksanakan ibadah haji dgn cara tamathu maka wajiblah menyembelih kurban yg sudah di dapat (membayar dam) maka barang siapa yg tak menemukan (binatang kurban atau tak mampu) maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila kamu telah kembali itulah sepuluh hari yg sempurna. Demikianlah bagi orang yg bukan dari penduduk Masjidil Haram dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwasa Allah Maha keras siksanya. (Surat al-Baqoroh : 196)
Allah Taala juga berfirman yg arti :”Dan jika ia dari golongan orang yg mengikat perjanjian antara kamu dgn mereka maka hendaklah dibayar uang tebusan yg diserahkan kepada keluarga dan merdekakan budak mumtetapi barang siapa tak mampu maka berpuasalah dua bulan berturut-turut utk penerimaan taubat dari pada Allah (sebagai suatu jalan bertaubat) krn Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat An-Nisaa :92)
Allah Taala berfirman yg arti :”Allah tak menghukum kamu krn keterlanjuran sumpah- sumpahmu yg tak di sengaja tetapi ia menghukum kamu krn sumpah yg kamu sengaja (apabila kamu merusakannya) maka kifarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin yaitu dari makanan yg biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberikan pakaian kepada mereka atau memerdekan hamba sahaya. Barang siapa yg tak sanggup melakukan yg demikian hendaklah ia berpuasa tiga hari. Itulah kifarat sumpahmu jika kamu bersumpah. Dan peliharalah sumpah-sumpahmu (jangan terlalu mudah bersumpah). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat kepadamu supaya kamu mensyukuri.” (Surat Al-Maidah ayat : 89)
Allah Taala berfirman yg arti :”Hai orang-orang yg beriman janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu yg membunuh dgn sengaja maka wajiblah atas denda ialah mengganti dgn binatang ternak yg seperti binatang yg dibunuh yg ditetapkan oleh dua orang yg adil (penduduk Mekkah) atau kifarat memberi makanan kepada orang-orang miskin. atau berpuasa seimbang dgn makanan yg dikeluarkan itu supaya merasakan akibat perbuatan barang siapa yg mengulangi lagi mengerjakan maka Allah akan menyiksa Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hak siksa.”(Surat Al-Maidah : 95)
Allah Taala berfirman yg arti :”Orang-orang yg mendhihar istri kemudian ingin kembali kepada apa yg mereka katakan maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua bercampur (bersetubuh). Demikian itu dijadikan nasihat kepadamu utk mengerjakan dan Allah senantiasa mengetahui rahasia apa yg kamu kerjakan maka barang siapa yg tak memperoleh budak (karena tak kuat mengadakan atau memang tak ada) maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum kedua bersentuhan maka barang siapa yg tiada berkuasa puasa hendaklah memberi makan enam puluh orang miskin (keringanan) yg demikian itu agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan itulah hukum-hukum Allah dan bagi orang-orang yg mengingkari (hukum-hukum Allah itu) adzab yg pedih.” (Surat Al-Mujadalah :3-4)
Demikian pula puasa dan shodaqoh bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu anhu berkata Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam:
“Fitnah pria dari keluarga (istri) harta dan tetangga bisa dihapuskan oleh shalat puasa dan shodaqoh.” (HR. Bukhori (2/7) Muslim (144))
8. Rayyan bagi orang yg puasaDari Sahl bin Saad radhiallihu anhu dari Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “sesungguh dalam syurga ada satu pintu yg disebut dgn rayyan orang-orang yg puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut tak ada orang selain mereka yg memasukinya. jika telah masuk orang terahir yg puasa ditutuplah pintu tersebut barang siapa yg masuk akan minum dan barang siapa yg minum tak akan merasa haus utk selamanya.” (HR. Bukhori (4/95). Muslim (1152) tambahan akhir dalam riwayat Ibnu Khuzhaimah dalam kitab Shahih (1903))
“Sesungguh kaum muslimin dan muslimat kaum mukminin dan mukminat kaum pria yg patuh dan kaum wanita yg patuh dan kaum pria serta wanita yg benar (imannya) dan kaum pria serta wanita yg sabar (ketaatannya) dan kaum pria serta wanita yg khusyu dan kaum pria serta wanita yg bersedeekah dan kaum pria serta wanita yg berpuasa dan kaum pria dan wanita yg menjaga kehormatan (syahwat birahinya) dan kaum pria serta kaum wanita yg banyak mengingat Allah. Allah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yg besar.” (Surat Al-Ahzab : 35)
Dan firman Allah yg arti “Dan kalau kalian puasa itu lbh baik bagi kalian kalau kalian mengetahuinya“. (Surat Al-Baqoroh : 184)
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan dalam hadits yg shahih bahwa puasa adl benteng dari syahwat perisai dari neraka Allah Tabaraka wa Taala telah mengkhususkan satu pintu syurga utk orang yg puasa puasa bisa memutuskan jiwa dari syahwat menahan dari kebiasaan-kebiasaan yg jelek hingga jadilah jiwa yg tenang. Inilah pahala yg besar keutamaan yg agung dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits shahih berikut ini dijelaskan dgn penjelasan yg sempurna.
1. Puasa adl PerisaiRasulullah Shalallahu alaihi wasallam menyuruh orang yg sudah kuat syahwat dan belum mampu utk menikah agar berpuasa menjadikan sebagai wijaa (pemutus syahwat jiwa) bagi syahwat ini krn puasa menahan kuat anggota badan hingga bisa terkontrol menenangkan seluruh anggota badan serta seluruh kekuatan (yang jelek) ditahan hingga bisa taat dan dibelenggu dgn belenggu puasa. Telah jelas bahwa puasa memiliki pengaruh yg menakjubkan dalam menjaga anggota badan yg dhahir dan kekuatan batin.
Oleh krn itu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Wahai sekalian para pemuda barang siapa diantara kalian telah mampu baah (menikah dgn berbagai macam persiapannya) hendak menikah krn menikah lbh menundukan pandangan dan lbh menjaga kehormatan. Barang siapa yg belum mampu menikah hendaklah puasa krn puasa merupakan wijaa (pemutus syahwat) baginya.” HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400) dari Ibnu Masud
Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa syurga diliputi dgn perkara-perkara yg tak disenangi dan neraka diliputi dgn syahwat jika telah jelas demikian -wahai muslimin- sesungguh puasa itu menghancurkan syahwat mematahkan tajam syahwat yg bisa mendekatkan seorang hamba ke neraka puasa menghalangi orang yg puasa dari neraka oleh krn itu banyak hadits yg menegaskan bahwa puasa adl benteng dari neraka dan perisai yg menghalangi seseorang dari neraka.
Bersabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam “Tidaklah ada seorang hamba yg puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim “. (HR. Bukhori (6/35) Muslim (1153) dari Abu Said AlKhudri ini adl lafadh Muslim. Sabda Rasulullah Sholallahu alaihi wasalam : 70 musim yakni : perjalanan 70 tahun demikian dikatakan dalam “Fathul Bari” (6/48))
“Puasa adl perisai seoramg hamba berperisai dengan dari api neraka”. (HR. Ahmad (3/241) (3/296) dari Jabir Ahmad (4/22) dari Utsman bin Abil Ash. Ini adl hadits yg shohih).
“Barang siapa yg berpuasa sehari di jalan Allah maka diantara dia dan neraka ada parit yg luas seperti antara langit dgn bumi“. (Dikeluarkan oleh Tirmidzi (no. 1624) dari hadits Abi Umamah)
Sebagian Ahlul Ilmi telah memahami bahwa hadits-hadits tersebut merupakan penjelasan tentang keutamaan puasa ketika jihad dan berperang di jalan Allah namun dhahir hadits ini mencakup semua puasa jika dilakukan dgn ikhlas krn mengharapkan wajah Allah Taala sesuai dgn apa yg dijelaskan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam termasuk puasa di jalan. (yang disebutkan di dalam hadits ini)
2. Puasa bisa memasukan seorang hamba ke dalam syurga
Engkau telah tahu wahai hamba Allah yg taat mudah-mudahan Allah memberimu taufik utk mentaati-Nya menguatkanmu dgn ruh dari-Nya bahwa puasa menjauhkan orang yg mengamalkan dari neraka. Jika demikian berarti mendekatkan ke bagian pertengahan syurga.
Dari Abi Umamah radhiallahu anhu “Aku berkata : “Ya Rasulullahu Shalallahu alaihi wasallam tunjukkan padaku amalan yg bisa memasukanku ke syurga; beliau menjawab: “Atasmu puasa tak ada (amalan) yg semisal dgn itu.” (HR NasaI (4/165) Ibnu Hibban (hal. 232 Mawarid) Al-Hakim (1/421) sanad SHAHIH)
3. Diberi pahala yg tak terhitung
4. Orang yg berpuasa punya dua kegembiraan
5. Bau mulut orang yg puasa lbh wangi dari bau miskDari Abi Hurairah radhiallahu anhu : Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Semua amalan bani Adam untuk kecuali puasa (pahala tak terbatas) krn puasa itu utk Aku dan Aku akan membalas puasa adl perisai jika salah seorang kalian sedang puasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak jika ada orang yg mencerca atau memerangi ucapkankanlah : “Aku orang yg sedang puasa (ucapan dgn lisan) [1] demi Dzat yg jiwa Muhammad di tangan-Nya sesungguh bau mulut orang yg puasa lbh wangi di sisi Allah daripada bau minyak misk [2] orang yg puasa punya dua kegembiraan jika berbuka gembira jika bertemu dgn Rabb gembira krn puasa yg dia lakukan.” (HR. Bukhri (4/88) Muslim (no. 1151) ini lafadz Bukhori)
Dalam riwayat Bukhori :”Meninggalkan makan minum dan syahwat krn Aku puasa itu untuk-Ku. dan Aku yg akan membalasnya. kebaikan dibalas dgn sepuluh kali lipat.”
Dalam riwayat Muslim “Semua amalan Ibnu Adam dilipat gandakan kebaikan dibalas dgn sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat Allah Taala berfirman : Kecuali puasa krn dia itu untuk-Ku dan Aku yg akan membalas dan meninggalkan syahwat dan makanan krn Aku bagi orang yg puasa ada dua kegembiraan : gembira ketika berbuka dan gembira bertemu dgn Rabb dan sungguh bau mulut orang yg puasa disisi Allah adl lbh wangi dari pada bau misk.”
Dengan ucapan yg terdengar oleh si pencerca atau orang yg mengganggu tersebut ada yg mengatakan : diucapkan di dalam hati agar tak saling mencela dan saling memerangi. Yang pertama lbh kuat dan lbh jelas krn ucapan secara mutlak adl dgn lisan adapun bisikan jiwa dibatasi oleh sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah : “Sesunguh Allah memaafkan bagi umatku apa yg terbetik dalam hati selama belum diucapkan atau diamalkannya” (Muttafaqun alaih). Maka jelaslah bahwa ucapan itu mutlak tak terjadi kecuali oleh ucapan yg dapat dididengar dgn suara yg terucap dan huruf. Wallahu alam. Lihat apa yg telah ditulis oleh Ibnul Qayyim dalam Al-Wabilu Shayyin minal Kalami At-Thayyib hal.22-3
6. Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat kepada ahlinyaRasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat kepada hamba di hari kiamat puasa akan berkata : “Wahai Rabbku aku menghalangi dari makan dan syahwat berilah dia syafaat karenaku Al-Quran pun berkata : “Aku telah menghalangi dari tidur di malam hari berilah dia syafaat. Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : “maka kedua memberi syafaat. [1]” (Diriwayatkan oleh Ahmad (no.6626) Hakim (1/554) Abu Nuaim (8/161) dari jalan Huyyay bin Abdullah dari Abdurrahman Al-Hubuli dari Abdullah bin Amr. Dan sanad HASAN)
7. Puasa merupakan kafaratDiantara keistimewaan puasa yg tak ada dalam amalan lain adalah; Allah menjadikan sebagai kafarat bagi orang yg memotong rambut kepala (ketika Haji) krn ada udzur sakit atau penyakit di kepala dan kafarat bagi yg tak mampu utk membeli kurban kafarat bagi pembunuh orang kafir yg punya perjanjian krn tak sengaja juga sebagai kafarat bagi yg membatalkan sumpah atau yg membunuh binatang buruan di tanah haram dan sebagai kafarat dhihar akan jelas bagimu dalam ayat-ayat berikut ini;
Allah Taala berfirman (yang artinya) :
“Dan sempurnakanlah olehmu ibadah haji dan umrah krn Allah; maka jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau sakit) maka wajib menyembelih kurban yg mudah didapat. Dan janganlah kamu mencukur rambut kepala mu hingga kurban itu sampai ketempat maka barang siapa sakit atau ada gangguan di kepala maka hendaklah memberi fidyah yaitu berpuasa atau memberi shodaqoh menyembelih kurban maka ketika telah aman maka barang siapa yg melaksanakan ibadah haji dgn cara tamathu maka wajiblah menyembelih kurban yg sudah di dapat (membayar dam) maka barang siapa yg tak menemukan (binatang kurban atau tak mampu) maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila kamu telah kembali itulah sepuluh hari yg sempurna. Demikianlah bagi orang yg bukan dari penduduk Masjidil Haram dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwasa Allah Maha keras siksanya. (Surat al-Baqoroh : 196)
Allah Taala juga berfirman yg arti :”Dan jika ia dari golongan orang yg mengikat perjanjian antara kamu dgn mereka maka hendaklah dibayar uang tebusan yg diserahkan kepada keluarga dan merdekakan budak mumtetapi barang siapa tak mampu maka berpuasalah dua bulan berturut-turut utk penerimaan taubat dari pada Allah (sebagai suatu jalan bertaubat) krn Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat An-Nisaa :92)
Allah Taala berfirman yg arti :”Allah tak menghukum kamu krn keterlanjuran sumpah- sumpahmu yg tak di sengaja tetapi ia menghukum kamu krn sumpah yg kamu sengaja (apabila kamu merusakannya) maka kifarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin yaitu dari makanan yg biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberikan pakaian kepada mereka atau memerdekan hamba sahaya. Barang siapa yg tak sanggup melakukan yg demikian hendaklah ia berpuasa tiga hari. Itulah kifarat sumpahmu jika kamu bersumpah. Dan peliharalah sumpah-sumpahmu (jangan terlalu mudah bersumpah). Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat kepadamu supaya kamu mensyukuri.” (Surat Al-Maidah ayat : 89)
Allah Taala berfirman yg arti :”Hai orang-orang yg beriman janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barang siapa diantara kamu yg membunuh dgn sengaja maka wajiblah atas denda ialah mengganti dgn binatang ternak yg seperti binatang yg dibunuh yg ditetapkan oleh dua orang yg adil (penduduk Mekkah) atau kifarat memberi makanan kepada orang-orang miskin. atau berpuasa seimbang dgn makanan yg dikeluarkan itu supaya merasakan akibat perbuatan barang siapa yg mengulangi lagi mengerjakan maka Allah akan menyiksa Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hak siksa.”(Surat Al-Maidah : 95)
Allah Taala berfirman yg arti :”Orang-orang yg mendhihar istri kemudian ingin kembali kepada apa yg mereka katakan maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua bercampur (bersetubuh). Demikian itu dijadikan nasihat kepadamu utk mengerjakan dan Allah senantiasa mengetahui rahasia apa yg kamu kerjakan maka barang siapa yg tak memperoleh budak (karena tak kuat mengadakan atau memang tak ada) maka ia berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum kedua bersentuhan maka barang siapa yg tiada berkuasa puasa hendaklah memberi makan enam puluh orang miskin (keringanan) yg demikian itu agar kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan itulah hukum-hukum Allah dan bagi orang-orang yg mengingkari (hukum-hukum Allah itu) adzab yg pedih.” (Surat Al-Mujadalah :3-4)
Demikian pula puasa dan shodaqoh bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu anhu berkata Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam:
“Fitnah pria dari keluarga (istri) harta dan tetangga bisa dihapuskan oleh shalat puasa dan shodaqoh.” (HR. Bukhori (2/7) Muslim (144))
8. Rayyan bagi orang yg puasaDari Sahl bin Saad radhiallihu anhu dari Nabi Shalallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya) : “sesungguh dalam syurga ada satu pintu yg disebut dgn rayyan orang-orang yg puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut tak ada orang selain mereka yg memasukinya. jika telah masuk orang terahir yg puasa ditutuplah pintu tersebut barang siapa yg masuk akan minum dan barang siapa yg minum tak akan merasa haus utk selamanya.” (HR. Bukhori (4/95). Muslim (1152) tambahan akhir dalam riwayat Ibnu Khuzhaimah dalam kitab Shahih (1903))
Langganan:
Postingan (Atom)